Setelah libur hingga Senin kemarin, pasar saham Australia memulai perdagangan setelah libur Natal nyaris flat, dengan indeks ASX 200 naik tipis 4,3 poin atau 0,08 persen di level 5.212. Namun, saham sektor mineral mengalami penurunan awal cukup tajam, 1,35 persen. Dua emiten tambang terbesar, Rio Tinto dan BHP Biliton bahkan turun masing-masing 2,79 dan 2,78 persen.
Bursa Tokyo mengalami penurunan pada awal perdagangan dengan indeks Topix anjlok dari kenaikan terbesar dua pekan, dipicu penurunan saham-saham komoditas dan melemahnya Bursa New York.
Indeks Topix turun 0,3 persen menjadi 1.524,84 pada pukul 09.09 pagi, dengan 26 dari 33 saham kelompok industri mengalami penurunan. Pada Senin kemarin indeks sempat menikmati kenaikan terbesar sejak 17 Desember. Indeks The Nikkei 225 Stock Average kehilangan 0,3 persen di posisi 18.824,74.
Di Korea Selatan, penuruan indeks Kospi berlanjut pada pekan terakhir 2015 ini, yakni sebesar 0,32 persen atau 6,3 poin menjadi 1958. Meski, saham seluruh grup Samsung berada di zona hijau, bahkan Samsung Engineering menikmati kenaikan 20,31 persen pada awal perdagangan.
Sejumlah analis menyatakan laju IHSG hari ini akan melanjutkan tren positif, setelah kemarin ditutup menguat 0,77 persen menjadi 4.557. Jika para pelaku pasar mempertahankan aksi beli dan volume perdagangan bisa terjaga, maka laju IHSG masih berkesempatan untuk bertahan di zona hijau. Meski, patut juga dicermati pengaruh pelemahan bursa global.
Tim Riset Indo Premier Securities menilai, seiring penguatan cukup signifikan pada IHSG dan kembali masuknya dana investor asing pada perdagangan kemarin, di tengah pelemahan pada mayoritas bursa saham global dan pelemahan tipis pada rupiah kemarin membuat IHSG berpotensi untuk bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat.
IHSG akan bergerak pada rentang support 4.510 dan resistance 4.610. Pergerakan keluar masuknya dana asing tetap menjadi salah satu poin penting yang harus diperhatikan, mengingat asing masih mendominasi pergerakan saham-saham di IHSG.
Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: BBCA (Spec Buy) [BBCA 13,125
Amerika Serikat dan Eropa
Pasar saham AS ditutup melemah dengan volume perdagangan tipis pada Senin kemarin--perdagangan awal di pekan terakhir tahun ini--seiring kembali melemahnya harga minyak.
Saham energi ditutup turun hampir 1,8 persen yang membawa indeks S&P 500 anjlok 4,49 poin atau 0,22 persen di nilai 2.056,50, sekaligus kembali membawa indeks acuan tersebut ke teritori negatif untuk tahun ini.
The Dow Jones Industrial ditutup lebih rendah 23,9 poin--setelah sempat anjlok lebih 100 poin pada perdagangan pagi--atau 0,14 persen di level 17.528,27. Sementara Nasdaq Composite melemah 7,51 poin atau 0,15 persen menjadi 5,040.99.
Tak berbeda dengan AS, pasar Eropa juga mengakhiri perdagangan lebih rendah dengan volume yang juga tipis.
Bursa FTSE London masih tutup. Adapun indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun sekitar 0,5 persen. Indeks CAC 40 Prancis turun sekitar 1 persen, dan DAX Jerman anjlok 0,7 persen.
Nilai Tukar Dolar AS
Nilai tukar dolar AS terhadap keranjang mata uang utama mendekati nilai terendah satu pekan pada Senin kemarin, karena para trader yang mengambil posisi bullish pada greenback melakukan aksi profit taking menjelang akhir tahun, sementara dolar Kanada anjlok karena turunnya harga minyak.
Taruhan bullish pada dolar AS populer pada tahun ini mengingat ekspektasi berlanjutnya kenaikan suku bunga The Federal Reserve dan kebijakan moneter yang lebih longgar di luar AS, yang tentunya akan memperkuat dolar AS.
Dolar kemungkinan akan tetap dalam rentang perdagangan yang ketat mengingat belum ada sinyal baru akan kenaikan suku bunga The Fed berikutnya, demikian analis dari Wells Fargo Securities di New York, Eric Viloria.
Indeks Dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama terakhir turun 0,07 persen di 97,917. Di awal perdagangan, indeks sempat menyentuh 97,811 yang merupakan level terendah sejak 16 Desember.
Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

Komoditas
Harga minyak mentah turun lebih dari 3 persen pada Senin kemarin dengan Brent kembali mendekati posisi terendah 11 tahun dan nilai perdagangan yang lebih rendah untuk minyak mentah AS, tertekan oleh konsumsi Jepang yang lemah dan kekhawatiran baru akan kelebihan pasokan.
Gasoline AS juga turun sekitar 3 persen sementara minyak pemanas turun 1 persen karena maraknya aksi jual untuk produk olahan di pasar berjangka minyak New York.
Harga acuan Brent turun USD1,28 perbarel menjadi USD36,61 pada pukul 14.30 EST, yang pada Selasa pekan lalu sempat ke nilai terendah sejak 2004 di level USD35,98.
Sementara, harga berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) stabil di USD36,81 per barel, atau turun USD1,29 setara 3,39persen. Berlanjutnya tekanan pasar minyak bisa membawa WTI ke nilai terendah Desember 2008, USD32,40 per barel.
Sejalan dengan penurunan harga minyak, harga emas kemarin juga anjlok meski di rentang tipis, meniadakan sebagian kenaikan yang dialami pada pekan lalu.
Pada perdagangan singkat menjelang libur Natal pekan lalu, emas menikmati kenaikan 1 persen, namun tetap di jalur penurunan untuk kuartal keenam berturut-turut, penurunan kuartalan terpanjang sejak pertengahan 1970-an. Tahun ini, harga emas sudah menyusut 10 persen.
Pada perdagangan di pasar spot kemarin, emas turun 0,65 persen di level USD1.068,51 per ounce. Sementara harga berjangka emas AS untuk pengiriman Februari turun USD7,60 atau 0,7 persen menjadi USD1.068,30 per ounce.
(CNBC,Bloomberg,Reuters)
Sumber : IPOTNEWS
https://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Market_Brief__Global_Melemah_Tipis__IHSG_Bervariasi_Dengan_Potensi_Menguat&level2=newsandopinion&id=4038911&img=level1_topnews_1&urlImage=#.VoH25EDcp5Y
Tidak ada komentar:
Posting Komentar