Bursa saham Australia mengawali perdagangan saham pekan ini dengan mencatatkan lonjakan indeks ASX 200 sebesar 0,96% pada sesi awal perdagangan, ditopang kenaikan semua indeks saham sektoral. Penguatan indeks berlanjut menjadi 0,76% (39,08 poin) ke level 5.219,90 pada pukul 8:20 WIB.
Pada jam yang sama indeks Nikkei 22 Jepang melaju kencang, naik 1,10% (185,31 poin) ke posisi 17.090,67, setelah dibuka dengan mencatatkan lompatan sebesar 1,59%. Indeks menguat seiring dengan melonjaknya indeks dolar pada pembukaan pasar Asia. Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka melaju 0,89 persen, dan berlanjut menguat 0,62% menjadi 1.994,30.
Melanjutkan tren kenaikan, indeks Hang Seng, Hongkong dibuka menguat 0,18% di posisi 22.682,71, pada pukul 8:35WIB. Namun indeks Shanghai Composite, China dibuka melemah 0,01% di level 3.124,89.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini dihadapkan pada tren positif di bursa saham Asia membalik tekanan penurunan bursa saham global akhir pekan lalu, setelah berhasil menutup perdagangan dengan membukukan kenaikan pada akhir pekan lalu. Sejumlah analis memprediksikan, pergerakan IHSG hari ini masih akan berada di fase konsolidasi yang diperkuat dengan sinyyal indikator teknikal yang bervariasi. Namun gerak positif di bursa saham regional, berpotensi ikut mendorong laju IHSG.
Tim Riset Indo Premier berpendapat, melemahnya bursa saham Wall Street serta turunnya harga minyak mentah diprediksi menjadi sentimen negatif indeks. Di sisi lain, rilis data ekonomi PDB yang akan diumumkan hari ini diperkirakan akan menjadi katalis positif indeks. IHSG diprediksi bergerak menguat terbatas dengan support di level 5.300 sedangkan resist pada level 5.405.
Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: WSBP [WSBP 605
Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup melemah terpengaruh oleh rilis sejumlah data ekonomi yang lebih buruk dari ekspektasi. Rilis data total penggajian pekerja non pertanian AS periode Oktober naik 161.000, namun lebih buruk dari ekspektasi pasar sebesar 175.000. Tingkat pengangguran sedikit berubah menjadi 4,9 persen. Rilis neraca perdagangan AS periode September memperlihatkan adanya defisit barang dan jasa mencapai US$36,4 miliar, turun US$4,0 miliar dibanding angka revisi Agustus. Ketidakpastian mengenai arah hasil pemilihan presiden AS pekan ini, masih menghantui pasar. Selama pekan lalu indeks dengan Dow, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun sebesar 1,5 persen, 1,9 persen dan 2,8 persen.
Dow Jones Industrial Average turun 0,24% (-42,39 poin) menjadi 17.888,28.
S&P 500 melemah 0,17% (-3,48 poin) di posisi 2.085,18.
Nasdaq Composite susut 0,24% (-12,04 poin) ke level 5.046,37.
Harga ETF saham Indonesia (EIDO) di New York Stocks Exchange turun 0,16% menjadi US$25,45.
Bursa saham utama Eropa akhir pekan lalu juga melemah, terpengaruh oleh rilis data ekonomi AS yang kurang meyakinkan dan ketidakpastian arah pilpres AS, di tengah kejatuhan harga minyak mentah global ke kisaran US$45 per barel, terendah sejak enam pekan terakhir. Indeks Eropa Stoxx 600 melemah 0,83 persen, dengan menempatkan semua sektor di zona merah. Laporan kerugian sejumlah emiten besar iktu menekan indeka.
FTSE 100 London anjlok 1,43% (-97,25 poin) ke level 6.693,26.
DAX 30 Frankfurt turun 0,65% (-66,75 poin) ke posisi 10.259,13.
CAC 40 Paris melorot 0,78% (-34,22 poin) menjadi 4.377,46.
Nilai Tukar Dolar AS
Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York, akhir pekan lalu cenderung melemah, setelah rilis laporan penggajian (payroll) non pertanian AS yang kurang mendukung bank sentral AS untuk menaikkan suuku bunga. Penghasilan rata-rata per jam untuk semua karyawan pada periode Oktober meningkat 10 sen menjadi US$25,92, setelah meningkat delapan sen pada September. Secara keseluruhan penghasilan rata-rata per jam naik 2,8% dibanding tahun lalu. Ketidakpastian hasil pemilihan presiden AS masih menghantui pasar. Indeks dolar AS, yang mengukur kurs greenback terhadap enam mata negara maju, turun 0,09% menjadi 97,067.
Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot
|
Currency |
Value |
Change |
% Change |
|
Euro (EUR-USD) |
1.1141 |
0.0036 |
+0.32% |
|
Poundsterling (GBP-USD) |
1.2517 |
0.0056 |
+0.45% |
|
Yen (USD-JPY) |
103.12 |
0.14 |
+0.14% |
|
Yuan (USD-CNY) |
6.7565 |
-0.0085 |
-0.13% |
|
Rupiah (USD-IDR) |
13,067.50 |
-7.50 |
-0.06% |
Komoditas
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent North Sea di bursa komoditas New York dan London, akhir pekan lalu ditutup dengan melanjutkan penurunan, memasuki hari keenam berturut-turut. Harga minyak tertekan oleh laporan Baker Hughes bahwa jumlah rig yang beroperasi di ladang-ladang minyak AS bertambah sembilan rig menjadi 450 rig pada pekan lalu. Pasar juga tertekan oleh aksi pedagang yang menarik dananya dari bursa minyak berjangka menjelang pemilihan presiden AS, Selasa (8/11). Harga minyak turun tajam setelah Arab Saudi mengancam untuk menaikkan produksi minyak jika Iran menolak membatasi produksinya, meski kemudian Jeddah membantah. Harga minyak WTI dan Brent masing-masing sudah terpuruk masing-masing sebesar 9 dan 8 persen sepanjang pekan lalu.
Harga minyak WTI untuk pengiriman Desember turun 59 sen (-1,3%) menjadi US$44,07 per barel.
Harga minyak Brent untuk penyerahan Januari turun 74 sen (-1,6%) menjadi US$45,61 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu menguat di tengah ketidakpastian arah hasil pilpres AS dan melemahnya kurs dolar AS. Investor mengalihkan sebagian hartanya ke emas, seiring dengan hasil polling pilpres AS yang semakin ketat. Rilis sejumlah data ekonomi AS yang menunjukkan kenaikan, kendati masih di bawah eskapektasi meredam laju harga emas.
Harga emas untuk pengiriman Desember naik US$1,2 (0,09%) menjadi US$1.304,50 per ounce.
Harga emas di pasar spot turun 0,08% menjadi US$1.304,50 per ounce.
(AFP, CNBC, Reuters)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar