Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan penurunan indeks ASX 200 Australia sebesar 0,9 persen pada sesi awal perdagangan. Indeks tertekan oleh penurunan harga saham sektor pertambangan sebesar 0,4%, dan harga minyak yang melemah kembali pada pembukaan pasar Asia. Pelemahan indeks berlanjut menjadi minus 0,66% (-35,82 poin) ke level 5.394,50 pada pukul 8:25 WIB.
Pada jam yang sama indeks Nikkei 225 Jepang turun tipis 0,02% (-3,38 poin) di posisi 17.181,21, setelah dibuka cenderung mendatar, terdampak rilis data ekspor September yang melorot 6,9% (yoy). Harga saham sektor keuangan melemah tertekan oleh penguatan yen, dan harga saham sektor kesehatan menguat.
Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka naik 0,47%, dan berlanjut naik 0,49% ke level 2.042.97. Indeks Hang Seng, Hongkong juga dibuka menguat 0,24% menjadi 23.431,63. Indeks Shanghai Composite, China naik tipis 0,04% di posisi 3.092,05.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini dihadapkan pada tren pergerakan indeks saham Asia yang bervariasi, setelah kemarin berhasil keluar dari tekanan pelemahan menjelang akhir penutupan bursa pekan lalu dan berlabuh di teritori negatif dengan bertahhan di atas level 5.400. Sejumlah analis mengekspektasikan, pergerakan IHSG hari ini berpeluang melanjutkan kenaikan ditopang aliran masuk modal asing. Namun secara teknikal pergerakan IHSG masih cenderung tertekan meskipun mampu bertahan pada support rata-rata pergerakan 50 hari, sehingga cenderung akan bergerak mixed.
Tim Riset Indo Premier berpendapat, melemahnya bursa saham Wall Street serta turunnya harga minyak mentah dan komoditas lainnya diprediksi menjadi sentimen negatif. Di sisi lain pelaku pasar yang masih menanti rilis kinerja emiten diprediksi menjadi katalis positif indeks hari ini. IHSG diprediksi bergerak cenderung menguat dengan target support di level 5.375 sedangkan resist pada level 5.440.
Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: INDF [INDF 8,750
Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup cenderung mendatar dengna mencatatkan pergerakan saham yang ketat, menyambut rilis sejumlah laporan keuangan emiten yang bervariasi. Kenaikan harga minyak dan penguatan indeks dolar AS ke level tertinggi dalam tujuh pekan terakhir, tak cukup kuat untuk mendongkrak semua indeks saham acuan ke zona hijau. Sektor telekomunikasi mengalami penurunan terdalam, sedangkan sektor barang konsumen membukukan kenaikan tertinggi.
Dow Jones Industrial Average melemah 0,09% (-16,64 poin) menjadi 18.145,71.
S&P 500 turun tipis 0,01% (-0,18 poin) di posisi 2.141,16.
Nasdaq Composite naik 0,3% (15,57 poin) ke level 5.254.
Harga ETF saham Indonesia (EIDO) di New York Stocks Exchange naik 0,30% menjadi US$26,49.
Bursa saham utama Eropa akhir pekan lalu juga ditutup dengan kecenderungan mendatar, di tengah kejatuhan kurs euro ke level terendah sejak Maret lalu, sehari setelah keputusan Bank Sentral Eropa untuk mempertahankan kebijakan meneternya. Indeks STOXX 600 bergerak mendatar di tengah bervariasinya harga saham sektoral.
FTSE 100 London melemah 0,09% (-6,43 poin) ke level 7.020,47.
DAX 30 Frankfurt naik 0,09% (9,34 poin) menjadi 4.536,07.
CAC 40 Paris sedikit turun 0,09% (-4,05 poin) di posisi 4.536,07.
Nilai Tukar Dolar AS
Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York, akhir pekan lalu ditutup menguat ke level tertinggi sejak Februari lalu. Penguatan dolar didukung pernyataan pejabat Fed yang memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed akhir tahun ini, dan rilis data ekonomi AS sepanjang pekan lalu yang positif. Ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga The Fed akhir tahun ini semakin menguat, didukung hassil polling debat calon presiden AS yang mendukung kemenangan Hillary Clinton. Indeks dolar, yang mengukur kurs greenback terhadap enam mata uang negara maju, naik 0,45 persen menjadi 98,758.
Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot
|
Currency |
Value |
Change |
% Change |
|
Euro (EUR-USD) |
1.0884 |
-0.0045 |
-0.41% |
|
Poundsterling (GBP-USD) |
1.2234 |
-0.0020 |
-0.16% |
|
Yen (USD-JPY) |
103.8000 |
-0.1500 |
-0.14% |
|
Yuan (USD-CNY) |
6.7670 |
0.0221 |
+0.33% |
|
Rupiah (USD-IDR) |
13,042.00 |
34.50 |
+0.27% |
Komoditas
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent North Sea di bursa komoditas New York dan London, alhir pekan lalu ditutup sedikit menguat, di tengah ekspektasi para pedagang bahwa produsen minyak mentah utama akan mencapai kesepakatan pada akhir bulan depan untuk membatasi produksi. Menteri Energi Rusia menegaskan perlunya tindakan terkoordinasi guna membendung kemerosotan harga dalam dua tahun terakhir, dan terbang ke Arab Saudi selama akhir pekan, sebelum bertemu dengan Sekjen OPEC pada Senin (24/10). Laporan Baker Hughes menyebutkan jumlah rig yang beroperasi di ladang-ladang AS naik 11 rig menjadi 443 rig selama pekan lalu, kenaikan ke 16 dalam 17 minggu terakhir.
Harga minyak WTI untuk penyerahan Desember naik US$0,22 menjadi US$50,85 per barel.
Harga minyak Brent untuk pengiriman Desember naik US$0,40 menjadi US$51,78 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi ditutup cenderung flat, di tengah penguatan indeks dolar. Menguatnya permintaan emas dari China dan India, tergerus oleh kenaikan nili tukar dolar AS terhadap mata uang Asia. Investor menunggu pernyataan The Fed, dan laporan sejumlah data ekonomi AS yang pekan ini.
Harga emas untuk pengiriman Desember naik tipis US$0,2 (0,02%) menjadi US$1.267,70 per ounce.
Harga emas di pasar spot naik 0,06% menjadi US$1.266,66 per ounce.
(AFP, CNBC, Reuters)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar