Mengawali perdagangan saham hari ini, indeks ASX 200 Australia dibuka melemah 0,99% dan berlanjut turun 1,09% (-57,67 poin) ke level 5.212,80 pada pukul 08.15 WIB.
Tekanan harga sebagian besar saham emiten pertambangan logam berlanjut, diikuti pelemahan harga saham emiten energi, sementara harga saham emiten pertambangan emas bergerak naik.
Pada jam yang sama indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,36% (-66,99 poin) ke level 18.383,99, setelah dibuka dengan mencatatkan penurunan sebesar 0,27%. Harga sejumlah saham blue chips, di bidang otomotif dan elektronika melorot, seiring menguatnya nilai tukar yen. Sebaliknya indeks Kospi, Korea Selatan, sedikit menguat 0,14% (2,62 poin) menjadi 1.921,38.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini akan menghadapi tantangan berat untuk keluar dari zona merah, setelah kemarin ditutup dengan membukukan angka minus, di tengah tekanan pelemahan bursa saham global.
Sejumlah analis memperkirakan, pelemahan indeks di awal tahun ini diperkirakan berlanjut membentuk tren penurunan jangka pendek. Namun secara teknikal, indeks bersiap membangun pola uptrend jangka pendek dan berbalik menguat secara terbatas.
Tim Riset Indo Premier berpendapat, seiring pelemahan signifikan mayoritas bursa saham gobal, IHSG dan nilai tukar rupiah, kemarin, membuat indeks berpotensi melanjutkan pelemahan.
IHSG akan bergerak pada rentang support 4.470 dan resistance 4.580. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: AKRA [AKRA 6,350
Amerika Serikat dan Eropa
Hari pertama perdagangan di bursa saham Wall Street tahun 2016 berakhir suram, terbebani oleh kekhawatiran akan pelambatan ekonomi dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Anjloknya perdagangan di bursa saham China yang dipicu oleh rendahnya indeks aktivitas manufaktur (PMI) versi Caixin, ikut mempengaruhi sentimen para pelaku pasar modal.
Rilis data indeks manufaktur AS versi ISM untuk periode Desember sebesar 48,2, yang lebih rendah dibanding November (48,6), semakin menekan indeks dan ditutup dengan mencatatkan angka terburuk awal tahun sejak 2001.
Dow Jones Industrial Average merosot 1,58% (-276,09 poin) menjadi 17.148,94.
S&P 500 melorot 1,53% (-31,28 poin) ke level 2.012,66.
Nasdaq Composite rontok 2,08% (-104,32 poin) ditutup di 4.903,09.
Harga ETF saham Indonesia di New York Stocks Exchange anjlok 1,53% menjadi US$20,55.
Aksi jual saham di bursa China dan meningkatnya ketegangan Arab Saudi-Iran juga merontokkan indeks saham utama Eropa. Tadi malam, bursa saham Eropa berakhir di zona merah dengan membukukan penurunan tajam.
Rilis indeks manufaktur zona Eropa periode Desember versi Markit, sebesar 53,2 yang lebih tinggi dari perkiraan, dan kenaikan harga minyak tak banyak membantu mempertahankan indeks dari keruntuhan.
FTSE 100 London, anjlok 2,39% (-148,89 poin) ke level 6.093,43.
DAX 30 Frankfurt, terjungkal 4,28% (-459,57 poin) terpuruk di 10.283,44.
CAC 40 Paris, jatuh 2,47% (-114,61 poin) di posisi 4.522,45.
Nilai Tukar Dolar AS
Nilai tukar dolar AS terhadap sebagian besar mata uang dunia pagi tadi menguat, terpengaruh oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong permintaan untuk mata uang safe haven.
Indeks Dolar, yang mengukur kurs greenback terhadap enam mata uang mitra dagangn AS, naik 0,25 persen menjadi 98,841. Hanya yen yang mencatatkan penguatan terhadap dolar AS.
Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

Komoditas
Reli harga minyak mentah yang terjadi di awal perdagangan di bursa New York, pagi tadi berakhir di zona merah. Kenaikan harga yang sempat mencapai 4 persen akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, terhapus karena trader lebih mengkhawatirkan pelambatan pertumbuhan ekonomi global dan anjloknya bursa saham global.
Data persediaan minyak West Texas Internediate (WTI) di pelabuhan pengiriman Cushing, Oklahoma, yang menunjukkan peningkatan, ikut memperburuk sentimen pasar.
Harga minyak WTI untuk pengiriman Februari turun 28 sen (-0,76%) menjadi US$36,76 per barel.
Harga minyak Brent untuk penyerahan Februari turun 5 sen (-0,13%) menjadi  US$37,24 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi menguat, menyikapi jatuhnya indeks di bursa saham global dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Keputusan Arab Saudi untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, pasca eksekusi seorang ulama Syiah, memicu investor untuk memburu logam mulia sebagai safe haven.
Harga emas juga mendapatkan dukungan setelah Institute for Supply Management merilis indeks manufaktur AS sebesar 48,2, terburuk sejak Juli 2009.
Harga emas untuk pengiriman Februari melonjak US$15 (1,41%) menjadi US$1.075,20 per ounce.
Harga emas di pasar spot naik 1,3% menjadi US$1.074,17 per ounce.
(AFP, CNBC,Reuters)
Sumber : IPOTNEWS
https://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Market_Brief__Tekanan_Global_Berlanjut__IHSG_Berpotensi_Melemah&level2=newsandopinion&id=4047779&img=level1_topnews_1&urlImage=#.VosntUDcp5Y
Tidak ada komentar:
Posting Komentar