About

IPOTFUND menjual Reksadana lebih dari 241 produk reksa dana yaitu Reksa Dana Pasar Uang, Reksa Dana Pendapatan Tetap, Reksa Dana Campuran, dan Reksa Dana Saham dari 39 Manajer Investasi ternama di Indonesia yang berada di bawah naungan OJK.

Minggu, 03 Januari 2016

Market Brief: Asia Mixed, IHSG Awal Tahun Variatif Cenderung Lemah

Ipotnews - Bursa saham Asia pada hari pertama perdagangan 2016, Senin (4/1), dibuka bervariasi dengan saham energi tetap memainkan pengaruh didorong penguatan harga di perdagangan Asia. Di front data, hari ini pasar menunggu rilis indeks manufaktur China pada Desember.

Pasar saham Australia memulai tahun ini dengan tren kenaikan, meski indeks utama ASX 200 sempat dibuka melemah namun berbalik menguat 25,7 poin atau 0,49 persen menjadi 5.321.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 dibuka turun 0,78 persen menjadi 18.885 dengan saham hampir semua sektor mengalami penurunan.

Saham minyak menunjukkan titik balik, diperdagangkan naik berkat kenaikan harga minyak di perdagangan Asia akhir tahun. Di Australia, saham energi naik antara 1,64 persen dan 5,61 persen dan di Jepang, Inpex naik 3,71 persen.

Merespons pergerakan positif bursa saham regional dan global, sejumlah analis yakin IHSG pada awal perdagangan 2016 hari ini akan memulai uptrend baru, mengingat pada akhir perdagangan 2015 pekan lalu IHSG mampu bertahan di level suport 4.533. Ditunjang oleh stabilitas rupiah dan berlanjutnya aksi beli pada hari ini, IHSG siap melanjutkan tren penguatan.

Tim riset Indo Premier Securities memaparkan, IHSG mengawali perdagangan akhir tahun lalu langsung berada di teritori positif. Sentimen positif dari penguatan pada mayoritas bursa saham global langsung direspons oleh pelaku pasar.

Meskipun Pelemahan pada nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (ditutup di level Rp13.830 per USD) dan aksi jual oleh investor asing sedikit menghambat laju pergerakan IHSG di perdagangan akhir tahun lalu.

Namun aksi beli oleh para investor domestik menyambut perdagangan hari terakhir di tahun 2015 mampu membuat IHSG tetap bertahan di zona hijau. IHSG akhirnya ditutup menguat sebesar 24 poin (+0,52%) pada level 4.593.

Investor asing mencatatkan jual bersih (foreign net sell) sebesar 114,7M di pasar regular dan negosiasi. Sektor pertanian dan perdagangan yang masing-masing mengalami penguatan sebesar 88 poin (+5,42%) dan 20 poin (+2,42%) menjadi penopang utama pergerakan IHSG pada perdagangan hari terakhir di tahun 2015.

Seiring pelemahan cukup signifikan pada mayoritas bursa saham gobal dan pelemahan pada nilai tukar rupiah terhadap USD serta kembali derasnya arus keluar dana asing, di tengah penguatan yang terjadi pada IHSG di perdagangan akhir tahun lalu, membuat IHSG berpotensi untuk bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah.

IHSG akan bergerak pada rentang support 4.565 dan resistance 4.615. Pergerakan keluar masuknya dana asing tetap menjadi salah satu poin penting yang harus diperhatikan, mengingat asing mendominasi pergerakan saham-saham di IHSG.

Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: WSKT (Spec Buy) [WSKT 1,645 -25 (-1,5%)], ADHI (Spec Buy) [ADHI 2,185 -25 (-1,1%)], BJBR (BoW) [BJBR 725 -10 (-1,4%)], dan SMGR (SoS) [SMGR 10,950 -125 (-1,1%)].

Amerika Serikat dan Eropa

Pasar saham Amerika Serikat ditutup turun dengan volume perdagangan tipis pada Kamis (30/12) pekan lalu. Meski, terjadi sedikit stabilisasi pada harga minyak.

Indeks S&P 500 dan Dow Jones sepanjang tahun 2015 mengalami penurunan, terburuk sejak 2008. Adapun Nasdaq naik lebih dari 5,5 persen untuk 2015, berkat kinerja saham-saham bioteknologi dan teknologi ternama, kecuali saham Apple yang anjlok ke posisi negatif tahunan pertama sejak 2008.

Pada perdagangan hari terakhir 2015 tersebut, indeks Dow ditutup 180 poin lebih rendah. Nasdaq anjlok lebih dari 1 persen dipicu penurunan Apple hampir 2 persen.

Sedangkan S&P 500 turun hampir 1 persen dengan saham energi satunya-satunya yang mengalami kenaikan berkat stabilisasi harga minyak, namun tetap mengalami level tahunan terendah sejak 2008. Energi merupakan sektor di S&P 500 dengan kinerja terburuk pada 2015, dengan kejatuhan lebih dari 20 persen.

S&P 500 mengakhiri tahun 2015 dengan penurunan 0,73 persen setelah selama tiga tahun berturut-turut menikmati kenaikan dua digit. Tahun terakhir indeks ini berada di teritori negatif pada 2008, ketika mengalani penurunan 38,49 persen.

Hal yang sama dialami Dow yang untuk 2015 mengalami penurunan 2,23 persen, penurunan pertama sejak 2008 di mana indeks turun lebih dari 30 persen.

Di Eropa, bursa juga ditutup turun pada Kamis pekan lalu, juga dengan volume perdagangan tipis.

Indeks FTSE 100 Inggris turun 0,5 persen pada perdagangan yang berlangsung hanya setengah hari. CAC Prancis turun 0,9 persen, sementara IBEX Spanyol merosot 1,1 persen. Sedangkan pasar Jerman, Italia, Swiss, dan Rusia tutup.

Indeks acuan pan-Eropa STOXX 600 secara keseluruhan tahun 2015 naik 6,9 persen. Sentimen terhadap saham Zona Euro terpacu oleh program stimulus Bank Sentral Eropa (ECB) yang masif pada Maret.

Terkait hal itu, sepanjang 2015 CAC naik 8,5 persen dan DAX Jerman mengakhiri tahun dengan kenaikan 9,5 persen.

Di Inggris, yang tak masuk Zona Euro sehingga terlepas dari pengaruh stimulus ECB, indeks FTSE 100 pada 2015 anjlok 4,9 persen, terutama karena pengaruh penurunan saham komoditas di indeks tersebut.

Nilai Tukar Dolar AS

Dolar AS mengakhiri 2015 dengan kenaikan tahunan lebih dari 9 persen terhadap keranjang mata uang utama pada Kamis pekan lalu--meski sepanjang Desember dolar mengalami penurunan--berkat rebalancing portofolio para pengelola dana.

Mengalami reli sejak Mei 2014, dolar telah terapresiasi hingga seperempat nilai terhadap keranjang mata uang utama dan 22 persen terhadap euro. Untuk 2015, dolar naik 10 persen terhadap euro untuk kenaikan tahun kedua berturut-turut.

Pada Kamis pekan lalu, euro menyentuh level terendah sepekan terhadap dolar AS di posisi USD1,08530 per euro, berkat pembelian aset berdenominasi dolar oleh pengelola dana untuk memenuhi syarat paparan minimal .

Indeks dolar, yang mengukur nilai dolar terhadap keranjang enam mata uang utama, naik ke posisi tertinggi sepekan di level 98,750. Untuk Desember, indeks turun 1,5 persen, penurunan pertama dalam empat bulan.

Dolar melaju terhadap mata uang dunia tahun ini, seiring pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve, lewat siklus kenaikan suku bunga sejak Desember, dikombinasikan kebijakan moneter longgar oleh Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan yang tentunya akan terus meningkatkan nilai dolar.

Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

mb4

Komoditas

Harga minyak berakhir naik pada Kamis pekan lalu setelah rilis data rig minyak mingguan, namun masih tercatat mengalami penurunan untuk tahun kedua setelah banjir pasokan dari produsen Timur Tengah dan produsen minyak shale AS ikut membanjiri pasokan global yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Rig minyak AS berkurang 2 pada pekan lalu menjadi 536, menurut data Baker Hughes, melengkapi penurunan 946 tahun lalu.

Harga berjangka untuk Brent dan West Texas Intermediate (WTI) di jalur penurunan lebih 30 persen untuk 2015, akibat membanjirnya pasokan dari negara produsen anggota OPEC.

Brent naik USD1,05 per barel atau 2,8 persen menjadi USD37,51 per barel, rebound dari level terendah 11 tahun sebesar USD36,10 per barel pada awal sesi. Dengan harga yang dicapai pada Kamis pekan lalu itu, Brent mengalami penurunan bulanan 17 persen dan 26 persen untuk 2015. Pada 2014, Brent anjlok hingga 48 persen.

Untuk acuan WTI, harga berjangka ditutup naik USD44 sen atau 1,2 persen di posisi USD37,04 per barel. Posisi tersebut turun 12 persen sepanjang Desember dan 31 persen sepanjang 2015, setelah anjlok 46 persen pada 2014.

Sedangkan harga emas stabil pada Kamis pekan lalu, namun tetap berada di wilayah negatif dengan penurunan untuk tahun ketiga berturut-turut pada 2015, melengkapi tahun-tahun sulit logam mulia seiring prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS dan menguatnya dolar.

Terutama dipengaruhi kebijakan moneter di AS dan aliran dolar, harga emas anjlok sekitar 10 persen pada 2015, dengan ramainya investor menjual emas dan memilih investasi di aset dengan imbal hasil semacam saham.

Harga spot emas turun tipis 0,06 persen menjadi USD1.060,06 per ounce pada perdagangan hari terakhir 2015 pekan lalu, dengan volume perdagangan yang juga tipis. Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Februari berada di level USD1.060,20 per ounce.

Harga emas pada akhir 2015 bahkan diyakini mendekati level terendah enam tahun senilai USD1.045,85 per ounce yang terjadi pada awal Desember. (CNBC/Bloomberg/Reuters)



Sumber : IPOTNEWS
https://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Market_Brief__Asia_Mixed__IHSG_Awal_Tahun_Variatif_Cenderung_Lemah&level2=newsandopinion&id=4044691&img=level1_topnews_1&urlImage=IHSG-berita%20satu.jpg#.VonhNUDcp5Y

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger news