Ipotnews - Jelang akhir pekan, bursa saham Asia pagi ini (15/1) dibuka menguat, melanjutkan reli di bursa saham AS yang didorong kenaikan harga minyak dan meredanya gejolak di bursa saham China.
Namun sejumlah analis masih meragukan tren kenaikan pada pembukaan pasar akan berlanjut hingga akhir perdagangan hari ini.
Perdagangan saham hari ini dibuka dengan kenaikan indeks ASX 200 Australia sebesar 1,69%, dan melemah menjadi 0,40% (19,62 poin) ke level 4.929 pada pukul 8:15 WIB. Kenaikan indeks didorong oleh penguatan harga saham di sektor energi dan pertambangan, serta perbankan.
Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang melaju 0,76% (130,77 poin) di posisi 17.371,72, setelah sempat dibuka dengan mencatatkan kenaikan sebesar 1,77%. Kenaikan indeks terutama ditopang oleh kenaikan harga saham emiten eksportir akibat pelemahan yen terhadap dolar AS. Indeks Kospi, Korea Selatan, menguat 0,33% menjadi 1.906,37.
Indeks Shanghai Composite dibuka melemah, turun 0,65%. Pasar menunggu rilis data investasi asing langsung China periode Desember.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diharapkan akan mampu berbalik arah, setelah kemarin berhasil memperkecil penurunan pasca hantaman bom Sarinah dan ditutup di zona merah.
Analis memperkirakan indeks melanjutkan skenario ke atas level 4.600. Namun indeks berpeluang mengalami pelemahan terbatas, karena belum adanya sentimen positif, menunggu rilis data ekonomi BPS hari ini.
Tim Riset Indo Premier berpendapat, penguatan signifikan bursa saham AS, dan percobaan pembalikan arah pada IHSG kemarin, serta penguatan rupiah pagi ini di tengah keluarnya dana investor asing berpotensi mendorong indeks saham gabungan untuk bergerak menguat.
IHSG akan bergerak pada rentang support 4.485 dan resistance 4.550. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: BBRI [BBRI 11,575
-150 (-1,3%)] (Buy), TLKM [TLKM 3,105
-30 (-1,0%)](Buy), SSIA [SSIA 695
-5 (-0,7%)] (Spec Buy) dan KIJA [KIJA 234
-1 (-0,4%)] (BoW).
Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi berhasil mematahkan tren penurunan di bursa saham global dan ditutup dengan membukukan semua indeks saham acuan di teritori positif, didorong pemulihan harga minyak dunia.
Kenaikan indeks didukung laju harga saham emiten energi, teknologi, dan kinerja positif laporan keuangan JPMorgan Chase. Pernyataan Presiden Federal Reserve St Louis tentang kemungkinan untuk mengubah proyeksi kenaikan suku bunga The Fed, akibat ekspektasi inflasi yang terus menurun, ikut mendongkrak nilai indeks.
Dow Jones Industrial Average melaju 1,41% (227.64 poin) menjadi 16,379.05.
S&P 500 melesat 1,67% (31.56 poin) ke posisi 1,921.84.
Nasdaq Composite lompat 1,97% (88.94 poin) di level 4,615.00.
Harga ETF saham Indonesia (EIDO) di New York Stocks Exchange naik 1,32% menjadi US$20,77.
Bursa saham utama Eropa tadi malam kembali berakhir di zona merah, melanjutkan aksi jual di bursa saham Asia. Lemahnya laporan kinerja keuangan sejumlah emiten ikut membebani indeks, meskipun harga minyak mencatatkan kenaikan yang mendorong penguatan di bursa saham AS.
Penurunan indeks terutama disebabkan oleh anjloknya harga saham emiten otomotif, sementara harga saham emiten ritel cenderung menguat.
FTSE 100 London turun 0,72% (-42,72 poin) menjadi 5.918,23.
DAX 30 Frankfurt melorot 1,67% (-166,76 poin) ke posisi 9.794,20.
CAC 40 Paris anjlok 1,80% (-79,05 poin) ditutup di 4.312,89.
Nilai Tukar Dolar AS
Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi diperdagangkan bervariatif (mixed), terpengaruh rilis data makroekonomi AS yang kurang memuaskan.
Laporan yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan klaim pengangguran awal naik 7.000 menjadi 284.000 selama pekan lalu. Laporan harga impor AS juga mengalami penurunan 1,2 persen untuk periode Desember.
Kendati demikian, indeks dolar, yang menunjukkan kurs dolar terhadap enam mata uang mitra dagang AS naik 0,16 persen menjadi 99,09. Dolar menguat terhadap euroo dan poundsterling, dan menguat terhadap yen.
Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot
Namun sejumlah analis masih meragukan tren kenaikan pada pembukaan pasar akan berlanjut hingga akhir perdagangan hari ini.
Perdagangan saham hari ini dibuka dengan kenaikan indeks ASX 200 Australia sebesar 1,69%, dan melemah menjadi 0,40% (19,62 poin) ke level 4.929 pada pukul 8:15 WIB. Kenaikan indeks didorong oleh penguatan harga saham di sektor energi dan pertambangan, serta perbankan.
Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang melaju 0,76% (130,77 poin) di posisi 17.371,72, setelah sempat dibuka dengan mencatatkan kenaikan sebesar 1,77%. Kenaikan indeks terutama ditopang oleh kenaikan harga saham emiten eksportir akibat pelemahan yen terhadap dolar AS. Indeks Kospi, Korea Selatan, menguat 0,33% menjadi 1.906,37.
Indeks Shanghai Composite dibuka melemah, turun 0,65%. Pasar menunggu rilis data investasi asing langsung China periode Desember.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diharapkan akan mampu berbalik arah, setelah kemarin berhasil memperkecil penurunan pasca hantaman bom Sarinah dan ditutup di zona merah.
Analis memperkirakan indeks melanjutkan skenario ke atas level 4.600. Namun indeks berpeluang mengalami pelemahan terbatas, karena belum adanya sentimen positif, menunggu rilis data ekonomi BPS hari ini.
Tim Riset Indo Premier berpendapat, penguatan signifikan bursa saham AS, dan percobaan pembalikan arah pada IHSG kemarin, serta penguatan rupiah pagi ini di tengah keluarnya dana investor asing berpotensi mendorong indeks saham gabungan untuk bergerak menguat.
IHSG akan bergerak pada rentang support 4.485 dan resistance 4.550. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: BBRI [BBRI 11,575
Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi berhasil mematahkan tren penurunan di bursa saham global dan ditutup dengan membukukan semua indeks saham acuan di teritori positif, didorong pemulihan harga minyak dunia.
Kenaikan indeks didukung laju harga saham emiten energi, teknologi, dan kinerja positif laporan keuangan JPMorgan Chase. Pernyataan Presiden Federal Reserve St Louis tentang kemungkinan untuk mengubah proyeksi kenaikan suku bunga The Fed, akibat ekspektasi inflasi yang terus menurun, ikut mendongkrak nilai indeks.
Dow Jones Industrial Average melaju 1,41% (227.64 poin) menjadi 16,379.05.
S&P 500 melesat 1,67% (31.56 poin) ke posisi 1,921.84.
Nasdaq Composite lompat 1,97% (88.94 poin) di level 4,615.00.
Harga ETF saham Indonesia (EIDO) di New York Stocks Exchange naik 1,32% menjadi US$20,77.
Bursa saham utama Eropa tadi malam kembali berakhir di zona merah, melanjutkan aksi jual di bursa saham Asia. Lemahnya laporan kinerja keuangan sejumlah emiten ikut membebani indeks, meskipun harga minyak mencatatkan kenaikan yang mendorong penguatan di bursa saham AS.
Penurunan indeks terutama disebabkan oleh anjloknya harga saham emiten otomotif, sementara harga saham emiten ritel cenderung menguat.
FTSE 100 London turun 0,72% (-42,72 poin) menjadi 5.918,23.
DAX 30 Frankfurt melorot 1,67% (-166,76 poin) ke posisi 9.794,20.
CAC 40 Paris anjlok 1,80% (-79,05 poin) ditutup di 4.312,89.
Nilai Tukar Dolar AS
Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi diperdagangkan bervariatif (mixed), terpengaruh rilis data makroekonomi AS yang kurang memuaskan.
Laporan yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan klaim pengangguran awal naik 7.000 menjadi 284.000 selama pekan lalu. Laporan harga impor AS juga mengalami penurunan 1,2 persen untuk periode Desember.
Kendati demikian, indeks dolar, yang menunjukkan kurs dolar terhadap enam mata uang mitra dagang AS naik 0,16 persen menjadi 99,09. Dolar menguat terhadap euroo dan poundsterling, dan menguat terhadap yen.
Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

Komoditas
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI ) di bursa komoditas New York, pagi tadi berakhir menguat, beranjak menjauhi level terendah 12 tahun yang lebih redah dari US$30 per barel.
Kenaikan harga juga terjadi untuk minyak jenis Brent North Sea di bursa London, meski pasokan minyak global masih terbilang melimpah. Analis mengatakan kenaikan harga minyak tersebut hanya bersifat teknikal dan jangka pendek, karena tidak ada perubahan fundamental yang dapat mendorong kenaikan harga minyak lebih tinggi lagi.
Apalagi jika Iran kembali memasok minyak ke pasar global, setelah menyelesaikan kewajibannya untuk mengakhiri program nuklirnya.
Harga minyak WTI untuk penyerahan Februari, naik 72 sen menjadi US$31,20 per barel.
Harga minyak Brent untuk pengiriman Februari naik 72 sen, menjadi US$31,03 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange, pagi tadi, ditutup melemah terdampak penguatan kurs dolar dan bursa ekuitas AS, meski data ekonomi negara itu melambat.
Laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan klaim pengangguran awal pada pekan lalu naik 7.000 menjadi 284.000.
Harga emas untuk pengiriman Februari turun US$13,5 (-1,24%) menjadi US$1.073,60 per ounce.
Harga emas di pasar spot anjlok 1,57% menjadi US$1.075,86 per ounce.
(AFP, CNBC, Reuters)
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI ) di bursa komoditas New York, pagi tadi berakhir menguat, beranjak menjauhi level terendah 12 tahun yang lebih redah dari US$30 per barel.
Kenaikan harga juga terjadi untuk minyak jenis Brent North Sea di bursa London, meski pasokan minyak global masih terbilang melimpah. Analis mengatakan kenaikan harga minyak tersebut hanya bersifat teknikal dan jangka pendek, karena tidak ada perubahan fundamental yang dapat mendorong kenaikan harga minyak lebih tinggi lagi.
Apalagi jika Iran kembali memasok minyak ke pasar global, setelah menyelesaikan kewajibannya untuk mengakhiri program nuklirnya.
Harga minyak WTI untuk penyerahan Februari, naik 72 sen menjadi US$31,20 per barel.
Harga minyak Brent untuk pengiriman Februari naik 72 sen, menjadi US$31,03 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange, pagi tadi, ditutup melemah terdampak penguatan kurs dolar dan bursa ekuitas AS, meski data ekonomi negara itu melambat.
Laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan klaim pengangguran awal pada pekan lalu naik 7.000 menjadi 284.000.
Harga emas untuk pengiriman Februari turun US$13,5 (-1,24%) menjadi US$1.073,60 per ounce.
Harga emas di pasar spot anjlok 1,57% menjadi US$1.075,86 per ounce.
(AFP, CNBC, Reuters)
Sumber : IPOTNEWS
https://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Market_Brief__AS_dan_Asia_Menguat__IHSG_Diharapkan_Mampu_Berbalik_Arah&level2=newsandopinion&id=4068101&img=level1_topnews_1&urlImage=ihsg-1-daylife.jpg#.VphpE9Kqqko
Tidak ada komentar:
Posting Komentar