About

IPOTFUND menjual Reksadana lebih dari 241 produk reksa dana yaitu Reksa Dana Pasar Uang, Reksa Dana Pendapatan Tetap, Reksa Dana Campuran, dan Reksa Dana Saham dari 39 Manajer Investasi ternama di Indonesia yang berada di bawah naungan OJK.

Minggu, 08 Februari 2015

Market Brief : Morning

Ipotnews – Penurunan indeks saham di bursa Eropa dan Amerika Serikat akhir pekan lalu, serta pergerakan indeks saham Asia yang dibuka mixed pagi ini, membayangi laju IHSG hari ini (Senin,9/2). Meski masih berpotensi melanjutkan penguatan menuju rekor baru, namun gerak IHSG berisiko mengalami pembalikan arah.

Asia

Bursa Asia hari ini dibuka mixed yang diawali dengan penurunan indeks S&P/ASX 200, Australia sebesar 0,3%, dan masih berlanjut ke level 5.795,50 (-0,42%) pada pukul 10:55:37 AET. Namun bursa saham Tokyo dibuka dengan kenaikan indeks Nikkei 225 sebesar 0,7%, namun sedikit melemah (0,63%) ke level 17760,35 pada pukul 9:24:00 JST. Kenaikan indeks Nikkei melanjutkan optimis pekan lalu di kalangan pelaku bursa saham Jepang, didorong oleh laporan keuangan emiten yang mencatatkan kenaikan kinerja.

Sejumlah analis menilai, laju IHSG hari ini masih berpotensi menguat setelah menembus rekor 5.342 pekan lalu. Namun melemahnya tren pergerakan indeks regional serta isu kenaikan suku bunga The Fed, berpeluang membalik arah pergerakan IHSG hari ini. Pekan lalu laju IHSG tak terbendung, termotivasi oleh tren positif bursa regional dan rilis BI tentang kenaikan cadangan devisa akhir Januari 2015 ke posisi US$114,2 miliar.

Eropa dan Amerika Serikat

Akhir pekan kemarin Wall Street sempat melambung setelah rilis data ketenagakerjaan yang memperlihatkan penambahan 257.000 pekerjaan pada Januari lalu, melebihi ekspektasi sebanyak 234.000. Namun menjelang penutupan, aksi ambil untung mewarnai bursa saham dengan dibayangi spekulasi bahwa perbaikan data ketenagakerjaan AS akan mendorong The Fed untuk segera menaikkan suku bunga sebelum pertengahan tahun ini.

Dow Jones Industrial Average,S&P 500, dan Nasdaq Composite, serempak susut 0,3-0,4%. Namun secara keseluruhan, sepanjang pekan lalu Wall Street mencatatkan pencapaian terbaik tahun ini ditopang oleh reli harga minyak, perbaikan data tenaga kerja, dan aksi korporasi. Dow Jones Industrial membubung 659,34 poin (3,84%) menjadi 17.824,29. S&P 500 naik 60,8 poin (3,03%) menjadi 2.055,47, dan Nasdaq Composite ditutup 4.744,40, meningkat 109,16 poin (2,36%) dibanding pekan sebelumnya.

Bursa saham utama Eropa juga mencatatkan penurunan akhir pekan lalu. Sentimen negatif menguasai pasar, dihantui oleh ketidakpastian program bailout Yunani dan tak tergerak oleh rilis data ketenagkerjaan AS. Berita tentang melebarnya neraca perdagangan Inggris, mengganjal laju FTSE 100 turun 0,18% menjadi 6.853,44. Indeks DAX Frankfurt 30 tergelicir 0,54% menjadi 10.846,39, dan CAC 40 Paris melemah 0,26% ditutup di 4.691,03.

Nilai Tukar Dolar AS

Dolar AS menguat akhir pekan lalu, disokong oleh membaiknya data ketenagakerjaan AS. Kendati demikian, investor masih menunggu data lanjutan untuk lebih meyakinkan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada pertengahan tahun ini. Yuan China menguat ditopang oleh menurunnya kinerja ekspor 3,3% namun masih lebih rendah dari berkurangnya impor sebesar 19,9% dibanding tahun lalu. Rupiah hari ini berpotensi melanjutkan penguatan terdorong sentimen positif dari rilis Bank Indonesia yang mengumumkan kenaikan cadangan devisa Januari 2015 ke level US$114,25 miliar.

Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot
(5:05 PM EST 2/06/2015)


last(mid)
change
% chg
Euro (EUR/USD)
1.1316
-0.0162
-1.41%
Pound (GBP/USD)
1.5245
-0.0084
-0.55%
Yen (USD/JPY)
119.14
1.61
1.37%
Yuan (USD/CNY)
6.2445
-0.0074
-0.12%
Rupiah (USD/IDR)
12650
46
0.36%
Sumber: WSJ.com, 6/2/2015

Komoditas

Pasar minyak mentah global menjalani masa penuh gejolak sepanjang pekan lalu. Mencatatkan rekor tertinggi dalam sebulan, terjerembab sehari kemudian, dan berakhir dengan kenaikan harga. Data penurunan operasi sumur-sumur pengeboran pada Januari dan kekerasan di Libya, serempak mendorong kenaikan harga minyak mentah WTI dan Brent dengan persentase kenaikan tertinggi sejak Februari 2011.

Harga emas kembali mengalami penurunan pada akhir pekan lalu, terganjal oleh tren kenaikan harga saham global dan perbaikan data ketenagakerjaan AS. Harga emas anjlok melebihi 2 persen, penurunan terdalam sejak pertengahan Desember lalu. Sepanjang pekan lalu, harga emas melorot sekitar 3,8%, terbesar sejak akhir Oktober lalu.

Harga Komoditas di Pasar Future 
(8:24 PM EST 2/06/2015)


last
change
% chg
WTI Crude Oil (Mar’15)
52.34
1.86
3.68%
Brent Crude (Apr’15)
59.09
1.58
2.75%
Gold (Apr’15)
1233.3
-29.4
-2.33%
Sumber: WSJ.com,6/2/2015

Sumber : IPOTNEWS
https://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Market_Brief___Morning&level2=newsandopinion&id=3382393&img=level1_topnews_1&urlImage=#.VNgW5easVWI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger news