Ipotnews - Mengawali pekan ini, (18/1) bursa saham Asia dibuka melemah, melanjutkan tren pelemahan di bursa saham global akhir pekan lalu, tertekan sentimen negatif pelemahan harga minyak dunia.
Indeks Nikkei 225 Jepang dibuka melorot 2,39 persen, di level terendah dalam setahun terakhir, dan sedikit mengurangi penurunan menjadi 1,88% (-322,59 poin) ke level 16.824,52 pada pukul 08.15 WIB.
Indeks tertekan oleh penurunan harga saham-saham emiten eksportir akibat penguatan nilai yen terhadap dolar AS, dan pelemahan harga saham emiten terkait minyak dan energi.
Pada jam yang sama indeks ASX 200 Australia, turun 0,90% (-43,90 poin) ke posisi 4.848,90, membaik dibanding saat pembukaan yang mencatatkan minus 1,80%.
arga saham emiten energi dan pertambangan berguguran, dan berpengaruh terhadap penurunan harga saham di sektor perbankan. Indeks Kospi, Korea Selatan, turun 0,55% menjadi 1.868,51.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diharapkan akan mampu bertahan dari tekanan jual yang melanda bursa saham global, setelah berhasil bermanuver di zona hijau pada akhir pekan lalu.
Analis memperkirakan, indeks berpotensi berbalik melemah terbatas, tertekan aksi jual investoor asing akibat maraknya sentimen negatif di bursa global.
Tim Riset Indo Premier berpendapat, pelemahan signifikan bursa saham global, dan maraknya aksi jual investor asing serta pelemahan pada nilai tukar rupiah, di tengah penguatan IHSG akhiir pekan lalu berpotensi menekan indeks harga saham gabungan untuk bergerak melemah.
IHSG akan bergerak pada rentang support 4.490 dan resistance 4.555. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: INTP [INTP 19,425
-200 (-1,0%)](BoW), TLKM [TLKM 3,070
-15 (-0,5%)](Buy), BJBR [BJBR 845
-10 (-1,2%)](BoW), GIAA [GIAA 313
5 (+1,6%)](BoW) dan KLBF [KLBF 1,375
-65 (-4,5%)](Spec Sell).
Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu berakhir suram, turun tajam pada penutupan perdagangan. Sentimen negatif berlangsung sejak memasuki sesi perdagangan. Indeks Nasdaq bahkan sempat terjungkal hingga 4,0 persen.
Aksi jual melanda Wall Street setelah bursa saham Eropa melorot merespons pelemahan tajam pasar saham China. Tekanan terhadap indeks diperburuk dengan penurunan harga minyak hingga di bawah US$30 per barel yang ikut merontokkan harga saham sejumlah emiten perbankan.
Akibat tekanan harga minyak, Citigroup dipaksa mencadangkan US$250 juta. Penurunan harga saham juga terjadi pada emiten di sektor teknologi informasi dan terkait energi.
Rilis sejumlah data ekonomi, sepeti produksi industrial dan pemanfaatan kapasitas (Desember), Indeks Harga Produsen (Desember), dan persediaan bisnis (November), yang melemah semakin memperberat laju indeks.
Dow Jones Industrial Average (DJIA) merosot 2,39% (-390,97 poin) ke level 15.988,08, turun 2,19% pekan lalu.
S&P 500 anjlok 2,16% (-41,55 poin) ke posisi 1.880,29, turun 2,17% dibanding pekan sebelumnya.
Nasdaq Composite rontok 2,74% (-126,69 poin) ditutup di 4.488,42, anjlok 3,34% sepanjang pekan lalu.
Harga ETF saham Indonesia (EIDO) di New York Stocks Exchange ambles 3,34% menjadi US$20,30.
Bursa saham utama Eropa, akhir pekan lalu juga berakhir muram, tertekan penurunan harga minyak global yang sudah di bawah US$30 per barel, yang diikuti dengan penurunan harga komoditas lain, terpengaruh pelemahan indeks di bursa saham China hingga 3,6 persen. Harga saham-saham emiten komiditas, energi dan otomotif berguguran.
FTSE 100 London turun 1,93%(-114,13 poin) menjadi 5.804,10.
DAX 30 Frankfurt anjlok 2,54% (-248,93 poin) di level 9.545,27.
CAC 40 Paris melorot 2,38% (-102,73 poin) ke posisi 4.210,16.
Nilai Tukar Dolar AS
Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia, akhir pekan lalu juga melemah, terpengaruh oleh rilis sejumlah data ekonomi AS dan pernyataan The Fed yang mengindikasikan penurunan ekspektasi inflasi negara itu.
Kondisi tersebut menimbulkan kesangsian akan prediksi bahwa kenaikan suku bunga AS pada Desember lalu akan mendorong angka inflasi. Kejatuhan harga minyak dan komoditas lainnya akhir-akhir ini, dikhawatirkan justru akan semakin menekan inflasi AS.
Rilis data penjualan ritel, belanja konsumen, harga penjualan secara keseluruhan untuk periode Desember, justru memperlihatkan penurunan. Indeks dolar yang mengukur kurs greenbackterhadap enam mata uang mitra dagang AS melemah 0,39% menjadi 98,71.
Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot
Indeks Nikkei 225 Jepang dibuka melorot 2,39 persen, di level terendah dalam setahun terakhir, dan sedikit mengurangi penurunan menjadi 1,88% (-322,59 poin) ke level 16.824,52 pada pukul 08.15 WIB.
Indeks tertekan oleh penurunan harga saham-saham emiten eksportir akibat penguatan nilai yen terhadap dolar AS, dan pelemahan harga saham emiten terkait minyak dan energi.
Pada jam yang sama indeks ASX 200 Australia, turun 0,90% (-43,90 poin) ke posisi 4.848,90, membaik dibanding saat pembukaan yang mencatatkan minus 1,80%.
arga saham emiten energi dan pertambangan berguguran, dan berpengaruh terhadap penurunan harga saham di sektor perbankan. Indeks Kospi, Korea Selatan, turun 0,55% menjadi 1.868,51.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diharapkan akan mampu bertahan dari tekanan jual yang melanda bursa saham global, setelah berhasil bermanuver di zona hijau pada akhir pekan lalu.
Analis memperkirakan, indeks berpotensi berbalik melemah terbatas, tertekan aksi jual investoor asing akibat maraknya sentimen negatif di bursa global.
Tim Riset Indo Premier berpendapat, pelemahan signifikan bursa saham global, dan maraknya aksi jual investor asing serta pelemahan pada nilai tukar rupiah, di tengah penguatan IHSG akhiir pekan lalu berpotensi menekan indeks harga saham gabungan untuk bergerak melemah.
IHSG akan bergerak pada rentang support 4.490 dan resistance 4.555. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: INTP [INTP 19,425
Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu berakhir suram, turun tajam pada penutupan perdagangan. Sentimen negatif berlangsung sejak memasuki sesi perdagangan. Indeks Nasdaq bahkan sempat terjungkal hingga 4,0 persen.
Aksi jual melanda Wall Street setelah bursa saham Eropa melorot merespons pelemahan tajam pasar saham China. Tekanan terhadap indeks diperburuk dengan penurunan harga minyak hingga di bawah US$30 per barel yang ikut merontokkan harga saham sejumlah emiten perbankan.
Akibat tekanan harga minyak, Citigroup dipaksa mencadangkan US$250 juta. Penurunan harga saham juga terjadi pada emiten di sektor teknologi informasi dan terkait energi.
Rilis sejumlah data ekonomi, sepeti produksi industrial dan pemanfaatan kapasitas (Desember), Indeks Harga Produsen (Desember), dan persediaan bisnis (November), yang melemah semakin memperberat laju indeks.
Dow Jones Industrial Average (DJIA) merosot 2,39% (-390,97 poin) ke level 15.988,08, turun 2,19% pekan lalu.
S&P 500 anjlok 2,16% (-41,55 poin) ke posisi 1.880,29, turun 2,17% dibanding pekan sebelumnya.
Nasdaq Composite rontok 2,74% (-126,69 poin) ditutup di 4.488,42, anjlok 3,34% sepanjang pekan lalu.
Harga ETF saham Indonesia (EIDO) di New York Stocks Exchange ambles 3,34% menjadi US$20,30.
Bursa saham utama Eropa, akhir pekan lalu juga berakhir muram, tertekan penurunan harga minyak global yang sudah di bawah US$30 per barel, yang diikuti dengan penurunan harga komoditas lain, terpengaruh pelemahan indeks di bursa saham China hingga 3,6 persen. Harga saham-saham emiten komiditas, energi dan otomotif berguguran.
FTSE 100 London turun 1,93%(-114,13 poin) menjadi 5.804,10.
DAX 30 Frankfurt anjlok 2,54% (-248,93 poin) di level 9.545,27.
CAC 40 Paris melorot 2,38% (-102,73 poin) ke posisi 4.210,16.
Nilai Tukar Dolar AS
Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia, akhir pekan lalu juga melemah, terpengaruh oleh rilis sejumlah data ekonomi AS dan pernyataan The Fed yang mengindikasikan penurunan ekspektasi inflasi negara itu.
Kondisi tersebut menimbulkan kesangsian akan prediksi bahwa kenaikan suku bunga AS pada Desember lalu akan mendorong angka inflasi. Kejatuhan harga minyak dan komoditas lainnya akhir-akhir ini, dikhawatirkan justru akan semakin menekan inflasi AS.
Rilis data penjualan ritel, belanja konsumen, harga penjualan secara keseluruhan untuk periode Desember, justru memperlihatkan penurunan. Indeks dolar yang mengukur kurs greenbackterhadap enam mata uang mitra dagang AS melemah 0,39% menjadi 98,71.
Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

Komoditas
Harga minyak dunia, akhir pekan lalu jatuh ke tingkat terendah selama 12 tahun terakhir tertekan oleh kekahwatiiran akan masuknya kembal ekspor minyak Iran ke pasar global yang sudahoversupply.
Harga minyak mentah Est Texa Intermediate (WTI) di bursa New York, dan Brent North Sea di bursa London, ditutup melemah di bawah US$30 per barel. Sejauh ini, harga minyak sudah anjlok 21 persen dibanding awal tahun, dan hampir 70 persen dibanding 18 bulan lalu.
Sejumlah analis mengatakan, kejatuhan harga minyak ke US$20 per barel semakin dekat yang akanmembahayakan bank-bank pemberi kredit ke sektor energi.
Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret turun US$2,09 (-6,28%) menjadi US$28,94 per barel, turun 13,7% selama pekan lalu.
Harga minyak mentah WTI untuk pengiriman Februari turun US$1,78 (-5,71%) menjadi US$29,42 per barel, turun 11,7% selama pekan lalu.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange, akhir pekan lalu berakhir menguat, ditopang oleh pelemahan indeks dolar dan penurunan indeks saham acuan di bursa saham global.
Penguatan emas juga didorong oleh rilis Departemen Perdagangan AS yang menunjukkan, penjualan ritel Desember melemah sebesar 0,1 persen, produksi industri turun sebesar 0,4 persen, dan rilis indeks harga produsen melorot sebesar 0,2 persen. Investor mengalihkan sebagian dananya ke emas sebagai safe haven.
Harga emas untuk pengiriman Februari naik US$17,1 (1,59%) menjadi US$1.090,70 per ounce.
Harga emas di pasar spot naik 1,6% menjadi US$1.089,03 per ounce.
(AFP, CNBC, Reuters)
Harga minyak dunia, akhir pekan lalu jatuh ke tingkat terendah selama 12 tahun terakhir tertekan oleh kekahwatiiran akan masuknya kembal ekspor minyak Iran ke pasar global yang sudahoversupply.
Harga minyak mentah Est Texa Intermediate (WTI) di bursa New York, dan Brent North Sea di bursa London, ditutup melemah di bawah US$30 per barel. Sejauh ini, harga minyak sudah anjlok 21 persen dibanding awal tahun, dan hampir 70 persen dibanding 18 bulan lalu.
Sejumlah analis mengatakan, kejatuhan harga minyak ke US$20 per barel semakin dekat yang akanmembahayakan bank-bank pemberi kredit ke sektor energi.
Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret turun US$2,09 (-6,28%) menjadi US$28,94 per barel, turun 13,7% selama pekan lalu.
Harga minyak mentah WTI untuk pengiriman Februari turun US$1,78 (-5,71%) menjadi US$29,42 per barel, turun 11,7% selama pekan lalu.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange, akhir pekan lalu berakhir menguat, ditopang oleh pelemahan indeks dolar dan penurunan indeks saham acuan di bursa saham global.
Penguatan emas juga didorong oleh rilis Departemen Perdagangan AS yang menunjukkan, penjualan ritel Desember melemah sebesar 0,1 persen, produksi industri turun sebesar 0,4 persen, dan rilis indeks harga produsen melorot sebesar 0,2 persen. Investor mengalihkan sebagian dananya ke emas sebagai safe haven.
Harga emas untuk pengiriman Februari naik US$17,1 (1,59%) menjadi US$1.090,70 per ounce.
Harga emas di pasar spot naik 1,6% menjadi US$1.089,03 per ounce.
(AFP, CNBC, Reuters)
Sumber : IPOTNEWS
https://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Market_Brief__Global_Memerah__Aksi_Jual_Menghadang_Laju_IHSG&level2=newsandopinion&id=4071783&img=level1_topnews_1&urlImage=IHSG-9-bisnis.jpg#.VpxjaNKqqko
Tidak ada komentar:
Posting Komentar