Indeks Nikkei 225, Jepang anjlok 1,52% (-288,48 poin) ke level 18.698,32 pada pukul 08.15 WIB, melanjutkan penurunan akhir pekan lalu setelah Bank of Japan memutuskan kebijakan moneter berupa program pembelian ETF senilai 300 miliar yen per tahun. Penguatan yen menekan harga saham-saham emiten eksportir otomotif dan elektronika.
Pada jam yang sama indeks ASX 200 Australia, yang dibuka di zona merah, turun 0,46% (-23,26 poin) menjadi 5.083,40. Namun analis mengatakan, pasar akan bergerak antara teritori positif dan negatif, karena para investor cenderung mengharapkan untuk menutup pembukuan di posisi positif pada akhir tahun. Meskipun harga minyak global melemah, harga sejumlah saham energi justru mencatatkan kenaikan. Indeks Kospi, Korea Selatan melemah 0,24% (-4,82 poin) menjadi 1.970,50.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini dipompa lebih keras agar mampu bergerak menuju ke zona hijau, setelah tenggelam di zona merah akhir pekan lalu.
Analis memperkirakan, indeks akan berupayya berbalik arah setelah mengalami koreksi 1,9 persen akhir pekan lalu, namun tekanan aksi jual masih akan berlanjut, menghambat laju indeks.
Tim Riset Indo Premier berpendapat, pelemahan signifikan bursa saham global dan IHSG akhir pekan lalu, yang disertai arus keluar dana investor asing di tengah penguatan nilai tukar rupiah, berpotensi membuat indeks bergerak melanjutkan pelemahan.
IHSG akan bergerak pada rentang support 4.425 dan resistance 4.525. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: MPPA [MPPA 1,860
Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu berakhir suram, ditutup di teritori negatif dengan membukukan warna merah pada semua indeks saham utama.
Indeks tertekan oleh penurunan harga minyak, dan rilis data ekonomi yang kurang menggembirakan. Harga minyak, yang diperdagangkan di sekitar level terendah dalam hampir tujuh tahun selama beberapa hari terakhir, berlanjut turun karena data produksi minyak mentah AS yang tidak berkurang.
Di sisi ekonomi, angka awal Indeks Kegiatan Bisnis PMI sektor jasa AS periode Desember versi Markit tercatat sebesar 53,7, gagal memenuhi konsensus pasar dan merupakan angka terendah selama 12 bulan terakhir.
Para analis meyakini Bursa saham masih akan mengalami volatilitas jelang akhir tahun ini, karena Wall Street berusaha mencerna keputusan kenaikan suku bunga The Fed.
Dow Jones Industrial Average terperosok 2,10% (-367,39 poin) di level 17.128,45, turun 0,8% sepekan lalu.
S&P 500 anjlok 1,78% (-36,37 poin) berakhir di 2.005,52, turun 0,3% selama sepekan.
Nasdaq Composite melorot 1,59% (-79,47 poin) menjadi 4.923,08, turun 0,2% dalam sepekan.
Harga ETF saham Indonesia (EIDO) di New York Stocks Exchange merosot 1,37% menjadi US$20,23.
Bursa saham utama Eropa akhir pekanlalu, juga berakhir dengan membukukan penurunan indeks saham acuan, terpengaruh penurunan harga minyak. Harga saham-saham terkait minak berguguran, namun penurunan indeks tertahan olehh kenaikan harga komoditas hasil penambangan logam.
FTSE 100 London turun 0,82% (-50,12 poin) menjadi 6.052,42.
DAX 30 Frankfurt anjlok 1,21% (-129,93 poin) ke level 10.608,19.
CAC 40 Paris melorot 1,12% (-52,28 poin) di posisi 4.625,26.
Nilai Tukar Dolar AS
Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia di pasar uang New York, akhir pekan lalu menguat berakhir di zona merah, setelah sempat meningkat tajam di sesi sebelumnya dipicu keputusan suku bunga The Fed. Greenback berada dalam tekanan karena bank sentral Jepang meluncurkan kebijakan pelonggaran moneter, pada Jumat lalu.
Analis mengatakan, keputusan Bank of Japan tidak banyak mengubah stimulus yang diberikan bank. Indeks Kegiatan Bisnis PMI sektor jasa AS yang disesuaikan periode Desember versi Markit, hanya mencatat 53,7, lebih rendah dari perkiraan bahkan terendah selama 12 bulan terakhir.
Indeks dolar yang mengukur kurs greenback terhadap enam mata uang dunia turun 0,43 persen menjadi 98,85.
Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

Komoditas
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di bursa New York, akhir pekan lalu, kembali mencatatkan penurunan ke posisi terendah sejak Februari 2009.
Laporan Baker Hughes Inc mencatat, jumlah rig minyak mentah pada pekan lalu, telah mengalami kenaikan 17 rig baru, dengan total rig mencapai 541, kenaikan pertama dalam lima pekan terakhir.
Harga minyak mentah Brent North Sea juga melemah tertekan oleh kelebihan pasokan minyak dunia, turun 3 persen sepanjang pekan lalu.
Harga minyak WTI untuk pengiriman Januari turun 22 sen (-0,6%) menjadi US$34,73 per barel.
Harga minyak Brent untuk penyerahan Februari turun 18 sen (-0,5%) menjadi USD36,88 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu mencatatkan kenaikan harga, ditopang pelemahan kurs dolar AS. Kendati demikian selama sepekan terakhir, harga emas masih lebih rendah 0,99 persen dibanding sebelumnya.
Para pedagang mengambil untung pada Jumat, menutup posisi, dan menambahkan kembali kepemilikan emasnya. Banyak pedagang berada di short positions menjelang keputusan kenaikkan suku bunga The Fed.
Harga emas untuk pengiriman Februari US$5,4 (1,47%) menjadi US$1.065,00 per ounce.
Harga emas di pasar spot naik 1,3% menjadi US$1.065,91 per ounce.
(AFP, CNBC, Reuters)
Sumber : IPOTNEWS
https://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Market_Brief__Pelemahan_Global_Berlanjut__Tekanan_Jual_Adang_Laju_IHSG&level2=newsandopinion&id=4029158&img=level1_topnews_2&urlImage=IHSG-9-antara.jpg#.VndkDE_cp5Y
Tidak ada komentar:
Posting Komentar