About

IPOTFUND menjual Reksadana lebih dari 241 produk reksa dana yaitu Reksa Dana Pasar Uang, Reksa Dana Pendapatan Tetap, Reksa Dana Campuran, dan Reksa Dana Saham dari 39 Manajer Investasi ternama di Indonesia yang berada di bawah naungan OJK.

Minggu, 08 Maret 2015

Market Brief: Global Meredup, Spekulasi The Fed Rate Hembuskan Sentimen Negatif

Ipotnews - Suasana muram membayangi pembukaan indeks bursa saham Asia awal pekan ini. Kekhawatiran akan percepatan kenaikan suku bunga Federal Reserve AS - dipicu oleh perbaikan angka pengangguran AS yang lebih baik dari dugaan banyak kalangan - mendominasi perdagangan saham Wall Street akhir pekan lalu dan mendorong penurunan indeks secara signifikan. Kurs dolar AS menguat menekan harga minyak mentah dan logam. Mengawali perdagangan saham di bursa Asia pagi ini (9/3), indeks S&P ASX 200 melorot 0,9% tergerus oleh penurunan harga saham emiten pertambangan dan migas. Indeks Nikkei 225 yang akhir pekan lalu berhasil memperbaiki rekor tertinggi, hari ini dibuka meredup, anjlok 1,3% dan sedikit menguat ke level 18.792,32 pada pukul 7:35 WIB.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, yang pada akhir pekan lalu memperbaiki rekor tertingginya,  diperkirakan akan akan mixed dengan kecenderungan melemah. Sejumlah analis berpendapat, laju IHSG berpotensi berbalik arah tertekan oleh sentimen negatif kemungkinan percepatan kenaikan suku bunga The Fed. Namun masih ada kemungkinan akan tertahan oleh pola uptrend jangka pendek laju IHSG.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, kembali melemahnya bursa global dan harga minyak dunia diperkirakan akan menekan pergerakan indeks sehingga akan rawan aksi profit taking. IHSG diprediksi akan bergerak melemah dengan support 5.485 sementara resist 5.545. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: BMRI [BMRI 12,100 275 (+2,3%)], MNCN [MNCN 3,055 40 (+1,3%)], PTPP [PTPP 3,960 -20 (-0,5%)] dan BBRI [BBRI 13,075 225 (+1,8%)].

Amerika Serikat dan Eropa

Perbaikan data pengangguran bulan Februari yang diumumkan Deprtemen Tenaga Kerja AS akhir pekan lalu, merontokkan harga saham dan obligasi di bursa Wall Street. Indeks yang semula bergerak positif berbalik arah setelah investor menginterpretasikan penurunan angka pengangguran menjadi 5,5%, terendah dalam enam setengah tahun, akan memicu Federal Reserve untuk lebih cepat menaikkan suku bunga dalam pertemuan 17-18 Maret mendatang. Nilai tukar dolar AS melesat, menggerus harga minyak dan logam, menggerogoti harga saham emiten pertambangan.

Dow Jones Industrial Average longsor ke bawah 18.000, atau 1,53% (-277,97 poin) ke level 17.857,75.
S&P 500  rontok 1,42% (-29,75 poin), ke level 2.071,29.
Nasdaq Composite amblas 1,11% (-55,44 poin), ke level 4.927,37.

Harga ETF Indonesia yang diperdagangkan di Wall Street turun 0,44%  (-0,12) menjadi US$27,14.

Sebelumnya, bursa saham utama Eropa mengakhiri sesi perdagangan pekan lalu dengan mixed. Kenaikan nilai tukar dolar AS mengikis harga saham emiten pertambangan di bursa saham London. Indeks FTSE 100 yang sehari sebelumnya berhasil mencatatkan rekor tertinggi, terpuruk di zona merah.

FTSE 100, London melorot 0,71%, ditutup di level 6.911,80.
DAX 30, Frankfurt melaju 0,41%, berakhir di level 11.550,97 setelah tembus rekor intraday11,600.
CAC 40, Paris naik tipis 0,02% menjadi 4.964,35.   

Nilai Tukar Dolar AS

Prediksi pasar bahwa The Fed akan lebih cepat menaikkan suku bunga acuan, yang dipicu oleh perbaikan data tenaga kerja non-pertanian AS, membuat dolar AS berjaya di Eropa. Sebaliknya, nilai tukar euro dan pounsterling terhadap dolar AS terpuruk. Euro bahkan sempat mencapai nilai terendah sejak September 2003, turun hampir US$2 per euro. Dolar AS reli setelah pengumuman Departemen Tenaga Kerja AS menjelang akhir pekan lalu, indeks dolar AS, yang mengukur nilai tukar dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia melejit 1,33%, hingga mencapai 97,66. Analis memprediksikan, hari ini rupiah masih berpotensi melanjutkan penguatan, setelah mengakhiri pekan lalu dengan mencatatkan perbaikan nilai tukar ditopang oleh rilis data cadangan devisa Bank  Indonesia  yang memperlihatkan kenaikan.

Komoditas 

Akhir pekan lalu, perdagangan minyak mentah global berakhir dengan mencatatkan penurunan harga, tertekan keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) dan kekhawatiran kenaikan suku bunga AS. Pasar mengalihkan perhatiannya dari penutupan 64 operasi anjungan pengeboran minyak AS sehingga hanya menyisakan 922 unit, terendah sejak April 2011, dan isu keamanan pasokan minyak mentah dari Libya dan Irak. Harga patokan minyak mentah WTI turun ke bawah US$50 per barel, dan Brent kembali diperdagangkan di bawah US$60 per barel.

Harga emas juga tak berdaya, bahkan membukukan harga terendah sejak Desember 2013, dihantam kenaikan data pengggajian tenaga kerja AS di sektor non-pertanian bulan Februari sebanyak 295.000 orang,yang lebih baik dari perkiraan analis. Secara keseluruhan penurunan harga emas akhir pekan lalu, menghapus angka keuntungan yang telah diraih sepanjang tahun ini.

Harga Komoditas di Bursa Berjangka
(5:44 PM EST 3/06/2015)


Delivery
last
change
% chg
Market
WTI Crude Oil
Apr 2015
49.78
-0.98
-1.93%
NYMEX
Brent Crude
May 2015
60.26
-0.70
-1.15%
ICE EU
Gold
Apr 2015
1168.2
-28.0
-2.34%
COMEX
Sumber WSJ.com

Sumber : IPOTNEWS
https://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Market_Brief__Global_Meredup__Spekulasi_The_Fed_Rate_Hembuskan_Sentimen_Negatif&level2=newsandopinion&id=3438222&img=level1_topnews_1&urlImage=ihsg-daylife.jpg#.VPz-qnysVWI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger news