![]()
Pelemahan indeks di bursa saham utama Assia pagi ini diperkirakan akan mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini. Pergerakan IHSG pekan ini juga akan terpengaruh oleh antisipasi rilis data keuangan emiten tahun 2014. Analis mengatakan, tren pasar yang sebelumnya uptrend jangka menengah kini menjadi konsilidasi sideways jangka pendek. IHSG masih berpotensi mengalami kenaikan setelah berhasil mengakhiri perdagangan pekan lalu di zona hijau. Data ekonomi makro yang akan dirilis BPS pekan ini, diharapkan akan mampu mendorong IHSG kembali ke jalur uptrend. Tim Riset Indo Premier berpendapat, kembali melemahnya harga-harga komoditas khususnya harga minyak dunia diperkirakan dapat menekan pergerakan indeks. Indeks harga saham gabungan diprediksi akan bergerak mixed dengan kecendrungan menguat terbatas, support 5.365 dan resist 5.425. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: ICBP [ICBP 14,250 Amerika Serikat dan Eropa Mengakhiri perdagangan pekan lalu, bursa saham Wall Street mencatatkan kenaikan tipis menyambut pernyataan pimpinan Federal Reserves AS Janet Yellen. Pasar masih berusaha mencerna pernyataan Yellen yang memastikan kenaikan kenaikan suku bunga tahun ini, dengan menekankan bahwa pengetatan kemungkinan akan dilakukan bertahap dengan memperhatikan data ekonomi. Namun kenaikan indeks Jumat lalu, belum mampu menutup penurunan sepanjang pekan ini, terpengaruh oleh rilis estimasi PDB AS kuartal keempat sebesar 2,2 persen, penurunan laba perusahaan, peningkatan impor dan penurunan belanja pemerintah, meskipun belanja konsumen dan pembelian rumah meningkat. Analis mengatakan, meskipun pernyataan Yellen tidak memberikan kejelasan, namun rilis data ekonomi yang sejalan dengan ekspektasi pasar menimbulkan asumsi bahwa perekonomian melaju mendekati 3%, yang akan mendukung pengetatan kebijakan moneter The Fed pada Juli atau September mendatang. S&P 500 naik 0,24% (4,87 poin) menjadi 2.061,62, namun turun 2,23% sepanjang pekan lalu. Dow Jones Industrial Average, naik 0,19% (34,43 poin) ke level 17.712,66, turun 2,29% dibanding pekan sebelumnya. Nasdaq Composite melaju 0,57% (27,86 poin) ke level 4.891,22, lebih rendah 2,69% dari pekan sebelumnya. Harga ETF saham Indonesia di bursa Wall Street naik 1,35% (0,36 poin) menjadi US$26,98. Bursa saham utama Eropa pekan lalu berakhir bervariasi. Investor masih menunggu kelanjutan kesepakatan program pendanaan Yunani sambil mengamati perkembangan situasi di Yaman. Secara keseluruhan, indeks FTSE 100 Inggris, DAX 30 Jerman, dan CAC 40 Perancis, selama pekan lalu melorot dibanding pekan sebelumnya. Analis mengatakan, perdagangan saham akhir pekan lalu cenderung sepi, setelah perdagangan sehari sebelumnya yang relatif berlumur warna merah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor masih berupaya untuk memahami logika kerumitan yang mendikte pergerakan harga saham. FTSE 100 London  melorot 0,58%, berakhir di level 6.855,02, turun 2,38% sepanjang pekan lalu. DAX 30 Frankfurt naik 0,21% menjadi 11.863,33, susut 1,4% dibanding sepekan sebelumnya. CAC 40 Paris melaju 0,55% ke level 5.034,06, lebih rendah 1,0% dari pekan sebelumnya. Nilai Tukar Dolar AS Mengakhiri pekan lalu, nilai tukar dolar terhadap sekeranjang mata uang dunia turun tipis 0,03% menjadi 97,38, menambah masa penurunan kurs dolar menjadi dua pekan berturut-turut. Investor menilai pernyataan Yellen tidak memberi informasi tambahan, sehingga mendorong investor untuk menghindari membeli dolar AS. Analis mengatakan, uptrend jangka panjang dolar AS masih akan berlangsung, namun investor masih menunggu rilis data ketenagakerjaan AS pekan depan, sebelum mengambil posisi beli. Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot (5:05 PM EDT 3/27/2015)
Komoditas Harga minyak dunia kembali merosot pada akhir perdagangan bursa komoditas New York Mechantile Exchange, Jumat pekan lalu. Meskipun kekhawatiran gangguan pasokan minyak akibat dampak serangan udara yang dipimpin Arab Saudi terhadap pemberontak Syiah di Yaman sudah mereda, namun laporan hasil survei Baker Hughes menunjukkan laju penurunan jumlah operasi anjungan minyak di AS yang semakin melambat. Pasar mulai mewaspadai kemungkinan penurunan harga minyak setelah perundingan nuklir Iran pekan depan, yang ditengarai akan mengakhiri sanksi ekspor minyak Iran sehingga menambah pasokan minyak global yang sudah melimpah. Namun secara keseluruhan harga minyak sepanjang pekan lalu masih mencatatkan kenaikan dibanding pekan sebelumnya. Harga minyak mentah Brent pekan ini naik 4%, dan minyak mentah AS naik 7%, terpengaruh oleh pelemahan nilai tukar dolar AS. Harga emas di bursa berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange juga melorot Jumat pekan lalu, mengakhiri reli selama tujuh hari. Investor melakukan aksi ambil untung sambil mengamati pernyataan The Fed, beberapa saat sebelum penutupan perdagangan. Analis mengatakan, pasar emas tidak banyak bereaksi menyikapi rilis data Departemen Perdagangan yang memperlihatkan ekspansi ekonomi tahunan sebesar 2,2%. Namun secara keseluruhan harga emas masih membukukan keuntungan lebih dari 1% sepanjang pekan lalu. Permintaan emas di Asia pekan lalu melorot akibat reli harga, sehinggga mengurangi minat untuk membeli emas. Harga Komoditas di Bursa Berjangka
|
About
IPOTFUND menjual Reksadana lebih dari 241 produk reksa dana yaitu Reksa Dana Pasar Uang, Reksa Dana Pendapatan Tetap, Reksa Dana Campuran, dan Reksa Dana Saham dari 39 Manajer Investasi ternama di Indonesia yang berada di bawah naungan OJK.
Minggu, 29 Maret 2015
Market Brief: Asia Dibuka Melemah, IHSG Berpotensi Menguat Terbatas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar