About

IPOTFUND menjual Reksadana lebih dari 241 produk reksa dana yaitu Reksa Dana Pasar Uang, Reksa Dana Pendapatan Tetap, Reksa Dana Campuran, dan Reksa Dana Saham dari 39 Manajer Investasi ternama di Indonesia yang berada di bawah naungan OJK.

Selasa, 09 Desember 2014

Pilih Mana: Reksadana Mahal Atau Murah?

Pada dasarnya setiap manusia menginginkan mendapat apapun dengan harga murah, namun memberi keuntungan yang melimpah. Itu sebabnya dalam hal berinvestasi – dalam hal ini investasi reksadana – pun tak lepas dari konsep tersebut.

Menurut beberapa ahli, tidak pernah ada hubungan bahwa reksadana yang bernilai, misalnya, Rp1.000,- lebih memiliki masa depan yang lebih cerah dibanding reksadana yang bernilai Rp10 ribu. Tidak ada hubungannya juga bahwa reksadana senilai Rp1.000 itu akan membuat Manajer Investasi (MI) nggak bisa membeli saham mahal, misalkan, yang perlembarnya Rp50 ribu.

Penjelasan reksadana  secara simpel adalah menitipkan uang kepada MI untuk dibelikan instrumen investasi seperti saham dan kawan-kawannya. Tetapi dalam pelaksanaannya adalah kita membeli "unit penyertaan", yang artinya apa yang dibeli adalah unit yang sudah dikelola terlebih dulu oleh MI. Oleh karena itu ada yang dikenal dengan istilah AUM yaitu Asset Under Management atau besaran dana yang dikelola dari umum oleh MI.

Menghitung mahal dan murah dari NAB (Nilai Aktiva Bersih) adalah hal keliru. Dan tidak ada istilah bahwa harga xxx adalah kemahalan. Ilustrasinya jika index saham pernah menyentuh level harga Rp1.000 dan hari ini telah berada pada level harga Rp5.000an, maka apakah Rp 1.000 saat itu dapat dikatakan mahal? Jawabannya jelas tidak, jika diketahui potensi kedepannya masih lebih besar lagi.Jadi dapat disimpulkan bahwa memilih reksadana sebaiknya tidak hanya bergantung dari NAB nya tetapi juga melihat peluang di masa depan apakah harga NAB nya akan meningkat atau tidak. :)

sumber: Readers Digest, diolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger news