Pada dasarnya setiap manusia menginginkan mendapat apapun
dengan harga murah, namun memberi keuntungan yang melimpah. Itu
sebabnya dalam hal berinvestasi – dalam hal ini investasi reksadana –
pun tak lepas dari konsep tersebut.
Menurut
beberapa ahli, tidak pernah ada hubungan bahwa reksadana yang bernilai,
misalnya, Rp1.000,- lebih memiliki masa depan yang lebih cerah
dibanding reksadana yang bernilai Rp10 ribu. Tidak ada hubungannya juga
bahwa reksadana senilai Rp1.000 itu akan membuat Manajer Investasi
(MI) nggak bisa membeli saham mahal, misalkan, yang perlembarnya Rp50
ribu.
Penjelasan reksadana secara simpel adalah menitipkan uang
kepada MI untuk dibelikan instrumen investasi seperti saham dan
kawan-kawannya. Tetapi dalam pelaksanaannya adalah kita membeli "unit
penyertaan", yang artinya apa yang dibeli adalah unit yang sudah
dikelola terlebih dulu oleh MI. Oleh karena itu ada yang dikenal dengan
istilah AUM yaitu Asset Under Management atau besaran dana yang dikelola dari umum oleh MI.
Menghitung
mahal dan murah dari NAB (Nilai Aktiva Bersih) adalah hal keliru. Dan
tidak ada istilah bahwa harga xxx adalah kemahalan. Ilustrasinya jika
index saham pernah menyentuh level harga Rp1.000 dan hari ini telah
berada pada level harga Rp5.000an, maka apakah Rp 1.000 saat itu dapat
dikatakan mahal? Jawabannya jelas tidak, jika diketahui potensi
kedepannya masih lebih besar lagi.Jadi dapat disimpulkan bahwa memilih
reksadana sebaiknya tidak hanya bergantung dari NAB nya tetapi juga
melihat peluang di masa depan apakah harga NAB nya akan meningkat atau
tidak. :)
sumber: Readers Digest, diolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar