PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menargetkan di tahun 2015,
akan ada kenaikan 20 persen -30 persen jumlah single investor
identification (SID).
Per 18 Desember 2014 tercatat ada sebanyak 363.746
investor, atau mengalami kenaikan 13,5% dari posisi akhir 2013 lalu
320.506. Di mana, SID asing ada 9.856 dan lokal 353.890.
SID
adalah indentitas tunggal investor untuk bertransaksi. Walaupun investor
membuka rekening di lebih dari satu perusahaan efek, SID yang dimiliki
tetap satu. Nomor SID digunakan investor selain untuk bertransaksi, juga
untuk memonitor portofolio efek (saham atau instrumen pasar modal lain)
yang bisa dilihat di melalui fasilitas kartu acuan kepemilikan
sekuritas (AKSes). Direktur KSEI Margareth Tang mengatakan, kenaikan itu
seiring dihubungkannya infrastruktur pasar modal melalui AKSes ke
jaringan perbankan. Seperti diketahui, saat ini KSEI sudah
menandatangani perjanjian kerjasama co-branding fasilitas AKSes dengan
empat bank administrator rekening dana nasabah (RDN), yakni PT Bank CIMB
Niaga Tbk, PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Mandiri Tbk, dan PT
Bank Permata Tbk.
Di sisi potensi, keempat bank ini secara
total memiliki 5.000 cabang dan lebih dari 30.000 mesin ATM. Berdasarkan
data KSEI, dari 343.317 total RDN, sebanyak 317.229 rekening dibuka di
Permata Bank, Bank CIMB Niaga, BCA, dan Bank Mandiri. "Dengan jaringan
perbankan, jumlah SID bisa naik drastis karena jika orang sudah punya
maka bisa beli IHSG, reksa dana lewat ATM dan internet banking," ujarnya
di Jakarta, Senin (23/12). Berdasarkan, data Nomor induk kependudukan,
data kependudukan dan kartu tanda penduduk (KTP) elektronik dari
Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil),
Kemendagri tercatat dari data sub rekening efek yang sudah diverifikasi
sebanyak 50 persen, terdapat investor wanita yang sebanyak 38 persen,
dan investor muda (di bawah 25 tahun) ada 8 persen atau 28.000 orang.
Menurut Margareth, dia akan melakukan sosialisasi ke kalangan muda yang
menjadi salah satu target ke depannya. "Tahun depan sosialisasi ke
investor muda melalui kampus-kampus dan sekolah, karena potensinya amat
besar," tukasnya. Bertepatan dengan HUT KSEI ke-17, pihaknya
memperkenalkan Bung AKSes. Ini dimaksudkan, agar investor ingat adanya
kemudahan yang ditawarkan untuk berinvestasi di pasar modal.
Lebih lanjut, dari sisi data operasional perusahaan, total aset yang
tercatat di C-BEST mengalami peningkatan 21,5 persen dari tahun
sebelumnya, dari Rp 2.588,23 triliun di akhir 2013 menjadi Rp 3.144,83
triliun menjelang akhir 2014. Di mana, jenis efek saham mendominasi
dengan nilai Rp 2.834,54 triliun, disusul obligasi korporasi Rp 220,43
triliun, lalu obligasi pemerintah Rp 27,07 triliun, sementara reksa dana
baru Rp 2,58 triliun. Sedangkan, jumlah efek yang terdaftar di KSEI,
sebanyak 1.249 efek atau meningkat 6,3 persen dari tahun sebelumnya
1.175 efek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar