About

IPOTFUND menjual Reksadana lebih dari 241 produk reksa dana yaitu Reksa Dana Pasar Uang, Reksa Dana Pendapatan Tetap, Reksa Dana Campuran, dan Reksa Dana Saham dari 39 Manajer Investasi ternama di Indonesia yang berada di bawah naungan OJK.

Minggu, 04 Oktober 2015

Market Brief: Asia Di Zona Hijau, IHSG Berpotensi Rebound

Ipotnews - Pasar Asia memulai perdagangan pekan ini di area positif, menyusul catatan lemah data tenaga kerja Amerika Serikat yang dirilis Jumat (2/10) pekan lalu, sehingga menyusutkan ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, akan menaikkan suku bunga dalam waktu segera.

Di Tokyo pagi ini, pada pukul 08.15 WIB, Indeks Nikkei 225 mengalami rebound 1,42 persen ke level 17.977, setelah melemah 1 persen pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu. Jika bisa mempertahankan tren kenaikan, Nikkei menuju level kunci 18.000.

Fokus investor ada pada sektor otomotif, yang dinilai dapat menarik keuntungan dari berlanjutnya negosiasi blok perdagangan Trans Pacific Partnership akhir pekan kemarin. Jika kesepakatan tercapai, blok perdagangan ini akan memberi produsen otomotif Jepang mengakses pasar otomotif AS lebih besar. Saham Mazda Motor, misalnya, melompat hampir 3 persen dan Toyota Motor sebesar 1 persen.

Sedangkan di Australia, ASX menikmati reli 1,8 persen berkat kenaikan meriah di sektor komoditas. Saham BHP Billiton, Fortescue Metals, dan Atlas Iron masing-masing reli hampir 4 persen, bahkan Newcrest Mining meroket 20 persen berkat kenaikan harga metal dan minyak.

Demikian juga dengan bursa Korea Selatan. Indeks acuan Kospi mendekati 2.000 dengan reli di saham blue-chips yang dipimpin SK hynix yang mengalami kenaikan hingga 3 persen. Adapun saham otomotif terlihat mixed meski sebuah survei yang dilakukan FnGuide memprediksi kenaikan pendapatan produsen otomotif pada kuartal ketiga. Kia Motors naik 1 persen sementara Hyundai Mobil anjlok 1 persen.

Sebelumnya, Sejumlah analis memperkirakan IHSG berpotensi berbalik arah menuju tren kenaikan, setelah berada di zona merah pada penutupan akhir pekan lalu, yang didahului kenaikan beberapa hari sebelumnya. Meski diyakini akan mengalami kenaikan secara bertahap, namun para investor tetap harus mewaspadai potensi pelemahan, walau hanya sifatnya terbatas.

Tim Riset Indo Premier Securities mengatakan secara teknikal, indeks membentuk pola bearish candle namun dengan body yang pendek, stochastic netral sedangkan MACD berhimpit dengan signal line. Target kenaikan indeks pada level 4.255 kemudian 4.305 dengan support di 4.160 dan 4.115.

Adapun saham yang dapat dicermati antara lain:

WTON (825) [WTON 825 15 (+1,9%)]

Rekomendasi: Spec BUY

Candle dengan dukungan volume di atas VMA5 membentuk pola spinning top yang merupakan sinyal indecision, stochastic memasuki area netral sedangkan MACD masih negatif namun dengan histogram yang memendek. Target kenaikan harga pada level 845 kemudian 865 dengan support di 800, cut loss jika break 780.

TLKM (2.620) [TLKM 2,620 -10 (-0,4%)]

Rekomendasi: Sell On Strength

Candle masih downtrend di bawah resist EMA(5,10). MACD turut mengkonfirmasi fase bearish karena masih di area negatif sementara stochastic netral. Jika terjadi rebound maka sebaiknya profit taking dengan target 2.670 sementara support terdekat 2.580.

PGAS (2.700) [PGAS 2,700 100 (+3,8%)]

Rekomendasi: Sell On Strength

Candle terlihat konsolidasi di level EMA5. MACD masih negatif dengan stochastic mengarah oversold. Belum ada signal bullish reversal yang kuat maka sebaiknya profit taking dengan target harga 2.885. Support terdekat di level 2.680.

Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street pekan lalu berakhir di zona hijau meskipun data penambahan lapangan kerja tidak bertambah sesuai ekspektasi. Data lapangan kerja AS selama September hanya bertambah sebanyak 142 ribu, jauh dibawah ekspektasi sebanyak 203.000.

Indikasi melemahnya data ketenagakerjaan meredam ekspektasi bahwa The Fed akan segera menaikkan suku bunga. Wall Street sempet melorot tajam pada sesi awal setelah publikasi data lapangan kerja, namun berbalik arah pada pertengahan sesi dipicu momentum aksi beli.

Harga saham emiten terkait minyak menguat seiring kenaikan harga minyak. Sedangkan harga saham-saham emiten asal China mencetak reli.

Dow Jones Industrial Average melaju 1,23% (200,36 poin) ke posisi 16.472,37.

S&P 500 melesat 1,43% (27,54 poin) ke level 1,951,36.

Nasdaq Composite melompat 1,74% (80,69 poin) menjadi 4.707,78. 

Harga ETF saham Indonesia di New York Stocks Exchange melambung 2,05% menjadi US$17,91.

Bursa saham utama Eropa, akhir pekan lalu juga berakhir dengan membukukan kenaikan, menguat pada saat-saat akhir perdagangan. Pasar bereaksi positif terhadap rilis data ketenagakerjaan AS yang memunculkan pertanyaan akan rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga.

Pelemahan harga saham Volkswagen masih berlajut, sedangkan saham Glencore terus mengalami pemulihan harga. Sebagian besar harga saham emiten energi Eropa mencatatkan kenaikan.

FTSE 100 London, melaju 0,95% (57,51 poin) menjadi 6.129,98.

CAC 40 Paris, menguat 0,73% (32,34 poin) menjadi 4.458,88.

DAX Frankfurt naik 0,46% (43,82 poin) menjadi 9.323,28.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar terhadap sebagian besar mata uang utama dunia, akhir pekan kemarin ditutup dengan membukukan pelemahan, tertekan oleh rilis data lapangan kerja AS untuk September yang jauh di bawah ekspektasi.

Selama September lalu, rata-rata penghasilan per jam karyawan sektor swasta non-pertanian turun 1% menjadi US$25,09. Sejauh ini, rata-rata pertumbuhan lapangan kerja AS mencapai 198.000 per bulan, jauh di bawah rata-rata kenaikan tahun lalu sebanyak 260.000 per bulan.

Data tersebut menimbulkan keraguan apakah ekonomi AS cukup kuat untuk mendukung kenaikan suku bunga The Fed, sehingga menekan dolar. Indeks dolar yang mengukur kurs greenbackterhadap enam mata uang mitra dagang utama AS melorot 0,37% menjadi 95,830.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot














Komoditas 

Harga minyak dunia mengakhiri pekan lalu dengan mncatatkan kenaikan, menyusul penurunan kegiatan pengeboran di AS sehingga memunculkan harapan akan berkurangnya produksi dan kelebihan pasokan global, meskipun laporan ketenagakerjaan AS mengecewakan.

Data ketenagakerjaan menunjukkan ekonomi AS sedang dipengaruhi oleh perlambatan global, menambah kekhawatiran tentang pertumbuhan permintaan minyak yang lebih lemah di tengah membanjirnya pasokan global.

Namun langkah perusahaan minyak AS untuk mengurangai aktivitas produksi menghapus kekhawatiran tersebut. Laporan Baker Hughes AS menyebutkan jumlah operasi pengeboran minyak pada pekan lalu turun 26 rig menjadi 614.

Namun secara keseluruhan harga minyak sepanjang pekan ini masih lebih rendah dibanding pekan lalu.

Harga minyak mentah WTI untuk pengiriman November, naik 80 sen (1,80%) menjadi US$45,54, turun 0,6% dibanding pekan lalu.
Harga minyak mentah Brent untuk penyerahan November, naik 50 sen (1%) menjadi US$48,90 per barel, turun 1% dibanding pekan lalu.

Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange akhir pekan lalu melonjak tajam, menghentikan penurunan selama lima sesi berturut-turut, terangkat oleh melemahnya dolar.

Analis mengatakan para investor akan melupakan kenaikan suku bunga The Fed pada 2015, karena pasar tenaga kerja AS menyusut dengan partisipasi tenaga kerja jatuh ke tingkat terendah 38-tahun.

Sementara itu, data AS yang lemah memicu kekhawatiran bahwa pelambatan ekonomi global akan menyeret pertumbuhan nasional, mendorong investor beralih ke logam "safe haven".

Harga emas untuk pengiriman Desember naik US$22,9 (2,06%) , menjadi menetap di 1.136,6 dolar AS per ounce.
Harga emas di pasar spot naik 2,1% menjadi US$1.137,26 per ounce. (AFP, CNBC, Reuters)



Sumber : IPOTNEWS
https://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Market_Brief__Asia_di_Zona_Hijau__IHSG_Berpotensi_Rebound&level2=newsandopinion&id=3880101&img=level1_topnews_1&urlImage=IHSG-9-bisnis.jpg#.VhHjr9KUde8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger news