About

IPOTFUND menjual Reksadana lebih dari 241 produk reksa dana yaitu Reksa Dana Pasar Uang, Reksa Dana Pendapatan Tetap, Reksa Dana Campuran, dan Reksa Dana Saham dari 39 Manajer Investasi ternama di Indonesia yang berada di bawah naungan OJK.

Minggu, 13 Desember 2015

Market Brief: Global Turun Tajam, IHSG Akan Sulit Keluar Dari Zona Merah

Ipotnews - Mengawali pekan ini, Senin (14/12) bursa saham Asia dibuka di teritori negatif, turun tajam melanjutkan pelemahan bursa saham global, akhir pekan lalu.

Indeks tertekan oleh anjloknya harga minyak dunia menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) untuk menetapkan kebijakan moneter Federal Reserve AS.

Mengawali perdagangan saham dunia hari ini, indeks ASX 200 Australia melorot ke bawah 5.000, terperosok 1,64% (-82,55 poin) ke level 4.946,90 pada pukul 08.00. Harga saham-saham emiten sektor energi dan pertambangan logam berguguran, diikuti oleh pelemahan saham emiten perbankan.

Pada jam yang sama indeks Nikkei 225, Jepang terjungkal 2,55% (-489,82 poin) di posisi 18.740,66, tertekan penurunan harga saham emiten otomotif dan emiten berkapitalisasi besar.

Indeks Kospi, Korea Selatan, juga anjlok 1,08% (-21,7 poin) ke level 1927.55, tertekan penurunan harga saham-saham bluechips.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diharapkan mampu menahan pelemahan lebih lanjut, setelah gagal keluar dari kubangan zona merah akhir pekan lalu, dan melorot 2,55% sepanjang pekan lalu.

Analis memperkirakan pada perdagangan hari ini para pelaku pasar akan mengambil posisi buy menjelang penguatan indeks di pengujung 2015 yang diproyeksikan berada di atas level 4500.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, pelemahan signifikan bursa saham gobal, IHSG dan nilai tukar rupiah, serta derasnya arus keluar dana asing akhir pekan lalu, berpotensi melanjutkan pelemahan indeks.

IHSG akan bergerak pada rentang support 4.325 dan resistance 4.525. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: BBNI [BBNI 4,955 -35 (-0,7%)](Sell), TLKM [TLKM 3,000 -35 (-1,2%)](Spec Sell), EXCL [EXCL 3,675 -75 (-2,0%)](Spec Sell), dan KLBF [KLBF 1,310 -40 (-3,0%)](SoS).

Amerika Serikat dan Eropa


Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu berakhir suram, tekanan harga minyak mengantarkan indeks saham acuan utama ke teritori negatif, membukukan penurunan tajam.

Harga minyak tertekan setelah International Energy memperingatkan bahwa kelebihan pasokan minyak dunia sudah begitu besar, sehingga persediaan minyak global sudah terbentuk hingga akhir 2016 mendatang.

Harga saham-saham emiten perminyakan rontok, diikuti pelemahan saham-saham sektor perbankan. Rencana merger DuPont dan Dow Chemical malah merontokkan harga saham keduanya hingga 5 persen.

Pasar juga dikejutkan oleh kegagalan Third Avenue Management untuk mencairkan dana investor senilai US$1 miliar. Data penjualan ritel AS periode November naik 0,2 persen, diikuti kenaikan indeks harga produsen 0,3 persen, diluar perkiraan analis.

-Dow Jones Industrial Average melorot 1,76% (-309,54 poin) ke posisi 17.265,21, turun 3,3% dari pekan sebelumnya.
-S&P 500 anjlok 1,94% (-39,86 poin) ke level 2.012,37, turun 3,8% dibanding pekan sebelumya.
-Nasdaq Composite terpelanting 2,21% (-111,71 poin), menjadi 4.933,47, turun 3,6% dibanding pekan sebelumnya.

-Harga ETF saham Indonesia (EIDO) di New York Stocks Exchanges, terjungkal 3,88%, terpuruk di US$19,31.

Bursa saham utama Eropa, akhir pekan lalu juga berakhir dengan membukukan penurunan tajam, dihantam sentimen negatif akibat penurunan harga minyak dunia.

Berlanjutnya devaluasi yuan, menimbulkan kekhawatiran investor akan makin melemahnya impor negara tersebut, di tengah bayang-bayang kenaikan suku bunga AS pekan ini. Harga saham emiten perminyakan dan pertambangaan logam berguguran hingga mencapai 8 persen.

-FTSE 100 London rontok 2,22% (135,37 poin) menjadi 5.952,78.
-DAX 30 Frankfurt longsor 2,44% (0258,87 poin) ke level 10.340,06.
-CAC 40 Paris terperosok 1,84% (-85,50 poin) ke posisi 4.549,56.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang dunia di pasar uang New York, akhir pekan lalu melemah meskipun rilis data ekonomi AS memperlihatkan penguatan.

Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk permintaan akhir meningkat 0,3 persen pada November, mengalahkan konsensus pasar. Sementara itu, perkiraan awal penjualan ritel dan jasa makanan AS untuk November naik 0,2 persen dari bulan sebelumnya menjadi 448,1 miliar dolar AS.

Namun, data-data tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mendukung kenaikan suku bunga The Fed. Akumulasi kekhawatiran pasar di tengah kemerosotan harga minyak, ikut menekan kurs dolar.

Indeks dolar, yang mengukur kurs greenback terhadap enam mata uang mitra dagang utama AS, turun 0,41 persen menjadi 97,542.

Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

MB14

Komoditas

Harga minyak mentah dunia, akhir pekan lalu melroto drastis, setelah Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan kelebihan pasokan minyak global akan terus memburuk sampai akhir 2016.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di bursa New York, dan harga minyak mentah Brent North Sea di bursa London, bergerak semakin menjauhi angka psikologis US$40 per barel, terendah sejak Feburari 2009, dan Juni 2008.

Permintaan minyak menjelang akhir tahun juga diperkirakan tetap rendah karena fenomena musim dingin yang lebih hangat.

-Harga minyak WTI untuk pengiriman Januari, melorot US$1,14 (-3,1%) menjadi US$35,62 per barel.
-Harga minyak Brent untuk penyerahan Januari, anjlok US$1,80 (-4,5%) menjadi US$37,93 per barel.

Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange, akhir pekan lalu bergerak menguat, berakhir di zona positif di tengah melemahnya dolar AS menjelang rapat FOMC untuk menetapkan suku bunga The Fed.

Kenaikan emas terhambat oleh laporan Departemen Tenaga Kerja AS yang menunjukkan Indeks Harga Produsen periode November rebound 0,3 persen, lebih besar dari perkiraan.

Para analis meyakini penguatan di industri jasa, merupakan tanda positif yang akan meningkatkan peluang The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan Desember.

Analis mengatakan, pasar sekarang telah sepenuhnya memperhitungkan ekspektasi kenaikan suku bunga Desember sebesar 0,50 persen. Tetapi pasar sekarang masih ragu kapan kenaikan berikutnya, dari tingkat 0,50 persen ke tingkat 0,75 persen, akan terjadi.

Harga emas untuk pengiriman Februari naik US$3,7 (0,35%) menjadi US$1.075,70 per ounce.
Harga emas di pasar spot naik 0,4% menjadi US$1.075,84 per ounce.

(AFP, CNBC, Reuters)




Sumber : IPOTNEWS
https://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Market_Brief__Global_Turun_Tajam__IHSG_Akan_Sulit_Keluar_Dari_Zona_Merah&level2=newsandopinion&id=4014493&img=level1_topnews_1&urlImage=IHSG-23-Solo%20Pos.jpg#.Vm5Ah0_cp5Y

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger news