Mengawali perdagangan hari ini, indeks ASX 200, Australia dibuka di zona merah, turun 0,51% (-26,14 poin) ke level 5.092,10 pada pukul 08.15 WIB. Penurunan indeks terpengaruh oleh penurunan harga komoditas yang menyeret harga saham emiten perminyakan dan pertambangan.
Pada jam yang sama, indeks Nikkei 225 melaju 0,84% (164,23 poin) di posisi 19.794,86 didorong kenaikan harga saham emiten otomotif. Investor menunggu kebijakan moneter bank sentral dalam pertemuan dua hari Bank of Japan.
Indeks Kospi, Korea Selatan naik 0,27% menjadi 1.968,89. Investor Asia hari ini juga menunggu rilis data indeks harga perumahan China, sebagai sinyal pemulihan pasar properti Asia.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diharapkan akan mampu melanjutkan manuver di zona hijau, setelah kemarin ditutup di teritori positif.
Analis memperkirakan, indeks akan melanjutkan technical rebound, didorong oleh perbaikan kinerja neraca transaksi berjalan kuartal ketiga menjadi 1,86 persen dari PDB.
Tim Riset Indo Premier berpendapat, penguatan pada bursa saham gobal dan IHSG kemarin, di tengah pelemahan rupiah dan derasnya arus keluar dana asing, berpotensi melanjutkan penguatan indeks.
IHSG akan bergerak pada rentang support 4.470 dan resistance 4.540. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: BBRI [BBRI 10,900
Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi berakhir bervariasi, dengan membukukan penurunan pada indeks S&P 500, dan hanya mencatatkan kenaikan tipis pada indeks Dow Jones dan Nasdaq.
Lonjakan harga saham emiten perdagangan ritel, setelah merilis laporan keuangan yang cukup solid, tidak cukup kuat mendorong laju indeks ke level yang lebih tinggi.
Sektor energi menyumbang poin paling besar pada penurunan indeks, sejalan dengan penurunan harga minyak dunia menuju level US$ 40 per barel. Rilis indikator ekonomi AS menunjukkan kenaikan indeks harga konsumen AS 0,2 persen (month-to-month) sepanjang periode Oktober, sebagai petunjuk potensial dari penguatan inflasi.
Indeks produksi industri Federal Reserve melemah 0,2 poin menjadi 107,2 disebabkan kontraksi yang cukup tajam pada sektor pertambangan minyak dan batubara.
Dow Jones Industrial Average naik 0,04% (6,49 poin) menjadi 17.489,50.
S&P 500 turun 0,13% (-2,75 poin) ke level 2.050,44.
Nasdaq Composite naik tipis 0,03% (1,40 poin) menjadi 4.986,02.
Harga ETF saham Indonesia (EIDO) di New York Stocks Exchange naik 0,63% menjadi US$20,67.
Bursa saham utama Eropa tadi malam berlompatan dan ditutup dengan membukukan kenaikan tajam pada semua indeks saham acuan, melanjutkan tren kenaikan di bursa Asia.
Pasar bergairah kembali setelah Paris membalas aksi teror ISIS akhir pekan lalu, dan menyerukan negara-negara Barat untuk bergabung menggempur ISIS, sehingga mendorong kenaikan harga saham emien terkait pertahanan dan militer.
Kenaikan data penjualan mobil Eropa untuk Oktober sebesar 2,7%, mendongkrak harga saham-saham emiten otomotif. Kenaikan tertinggi dialami oleh saham-saham emiten perminyakan yang mencapai 3 persen, lantaran menguatnya harga minyak.
FTSE 100 London melesat 1,99% (122,38 poin) menjadi 6.268,76.
DAX 30 Franksfurt melompat 2.4% (257,81 poin) ke level 10.971,04.
CAC 40 Paris melambung 2.77% (133,00 poin) di posisi 4.947,31.
Nilai Tukar Dolar AS
Nilai tukar dollar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia, pagi tadi ditutup dengan mencatatkan kenaikan tipis, setelah bergerak bervariasi terpengaruh oleh rilis data ekonomi AS terbaru yang beragam.
Indeks Harga Konsumen (IHK) AS untuk semua konsumen perkotaan naik 0,2 persen pada periode Oktober sejalan dengan konsensus pasar. Indeks untuk semua item kecuali makanan dan energi (IHK inti) naik 0,2 persen pada Oktober, kenaikan yang sama seperti pada September. IHK inti sudah naik 1,9 persen selama 12 bulan terakhir.
Namun data industri AS untuk Oktober turun 0,2 persen, melanjutkan pelemahan pada September. Indeks Dolar, yang mengukur kurs greenback terhadap enam mata uang mitra dagang utama AS naik 0,17 persen menjadi 99,70.
Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

Komoditas
Harga minyak dunia, pagi tadi anjlok gagal melanjutkan penguatan pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Kekhawatiran akan kelebihan pasokan terus mendominasi pasar.
Suhu musim gugur yang relatif moderat di AS menguatkan ekspektasi peningkatan stok minyak mentah komersial AS pada pekan ini. Kenaikan nilai tukar dolar ikut membebani harga minyak.
Analis berpendapat serangan jet tempur Prancis yang menargetkan ISIS, tidak terlalu menyebabkan gangguan pasokan minyak, karena jauh dari sebagian besar terminal minyak utama. Pasar menunggu rilis data persediaan minyak AS, Rabu ini.
Harga minyak mentah WTI, untuk pengiriman Desember, turun US$1,07 menjadi US$40,67 per barel.
Harga minyak mentah Brent untuk penyerahan Januari susut 99 sen menjadi US$43,57 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange, pagi tadi melorot lagi, tertekan penguatan dolar AS yang ditopang kenaikan indeks harga konsumen (IHK).
Para analis mencatat kedua data itu mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), bulan depan.
Satu-satunya target The Fed yang belum tercapai adalah inflasi dua persen, tapi dengan IHK yang sesuai harapan, kemungkinan kenaikan suku bunga Desember semakin menguat.
Harga emas untuk pengiriman Desember turun US$15 (1,38%) menjadi US$1.068,60 per ounce.
Harga emas di pasar spot melorot 1,1% menjadi US$1,070,18 per ounce.
(AFP, CNBC, Reuters)
Sumber : IPOTNEWS
https://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Market_Brief__Global_Relatif_Menguat__IHSG_Berpotensi_Lanjutkan_Penguatan&level2=newsandopinion&id=3969972&img=level1_topnews_1&urlImage=IHSG9-antara.jpg#.VkvjO0_cp5Y
Tidak ada komentar:
Posting Komentar