About

IPOTFUND menjual Reksadana lebih dari 241 produk reksa dana yaitu Reksa Dana Pasar Uang, Reksa Dana Pendapatan Tetap, Reksa Dana Campuran, dan Reksa Dana Saham dari 39 Manajer Investasi ternama di Indonesia yang berada di bawah naungan OJK.

Minggu, 27 September 2015

Market Brief: Global Variatif, Potensi Rebound IHSG Diadang Pelemahan Rupiah

Ipotnews - Bursa saham Asia, pagi ini (28/9) dibuka mixed cenderung melemah, melanjutkan variasi penutupan indeks di bursa AS akhir pekan lalu. Investor menungggu rilis data laba industrial China untuk Agustus yang dijadwalkan hari ini.

Indeks Nikkei 225 Jepang dibuka melemah, turun 0,98% (-174,40 poin) ke level 17.706,11 pada pukul 08.15 WIB. Indeks tertekan oleh penguatan yen yang berdampak pada penurunan harga saham sejumlah emiten produsen elektronika.

Pada jam yang sama, indeks ASX 200 Australia mencatatkan kenaikan 0,43% (21,89 poin) ke posisi 5.064.00, setelah sempat menguat 0,5% saat pembukaan. Kenaikan indeks ditopang oleh reli harga saham sejumlah emiten sektor perbankan, seiring menguatnya kurs dolar Australia.

Hari ini bursa Hongkong, Taiwan, dan Korea Selatan tutup, merayakan Festival Pertengahan Musim Gugur

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diharapkan akan mampu keluar dari kubangan zona merah, setelah pekan lalu gagal berlabuh di teritori positif.

Analis memperkirakan, sentimen negatif dari pelemahan rupiah masih membayangi laju indeks, namun IHSG memiliki potensi rebound menuju target resisten terdekat, setelah menembus level support pada akhir pekan lalu.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, rebound yang terjadi pada mayoritas bursa saham global di akhir pekan lalu, di tengah melemahnya rupiah, berpotensi mendorong variasi arah IHSG dengan kecenderungan menguat, pada rentang support 4.160 dan resistance 4.250.

Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: SMGR [SMGR 9,150 -325 (-3,4%)] (Spec Buy), BBRI [BBRI 8,350 -200 (-2,3%)] (BoW), TLKM [TLKM 2,625 -30 (-1,1%)] (BoW) dan AKRA [AKRA 5,900 -100 (-1,7%)] (SoS).

Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street akhir pekan lalu berakhir bervariasi, cenderung melemah. Lonjakan laba Nike sebesar 22,6 persen mendorong laju indeks Dow Jones, sementara aksi jual di banyak saham teknologi dan bioteknologi menekan indeks Nasdaq dan S&P 500.

Para analis mengatakan pasar tetap tegang karena kekhawatiran terhadap pertumbuhan global dan ketidakpastian tentang kebijakan moneter AS. Investor juga mengkhawatirkan imbas pengunduran diri Ketua DPR Partai Republik John Boehner terhadap kelangsungan anggaran pemerintah AS, yang sempat dibekukan karena perselisihan Kongres dengan Gedung Putih.

Revisi data PDB AS kuartal kedua naik menjadi 39% didorong oleh kenaikan belanja konsumen dan konstruksi. Sentimen konsumen untuk September turun menjadi 87,2, terendah dalam setahun terakhir. Hingga akhir pekan lalu, ketiga indeks acuan Wall Street masih membukukan nilai negatif sepanjang 2015 ini.

Dow Jones Industrial Average melaju 0,70% (113,35 poin) menjadi 16.314,67.
S&P 500 melemah 0,05% (-0,90 poin) ke level 1.931,34.
Nasdaq Composite anjlok 1,01% (-47,98 poin) ke posisi 4.686,50.

Harga ETF saham Indonesia di New York Stocks Exchange naik 0,17% menjadi US$17,32.

Bursa saham Eropa akhir pekan lalu berakhir dengan membukukan kenaikan tajam pada semua indeks saham acuan. Kekhawatiran akan prosepek ekonomi global meredup setelah pimpinan The Fed menyatakan akan melanjutkan kenaikan suku bunga pada 2015.

Kenaikan harga saham pertambangan mendorong laju indeks FTSE 100 London. Kekhawatiran akan skandal emisi Volkswagen, menghambat laju indeks DAX Jerman untuk mencapai posisi lebih tinggi. Sementara itu, kenaikan indeks kepercayaan konsumen Perancis mendorong kenaikan indeks CAC 40.

FTSE 100 London, melesat 2,47% (147,52 poin) ke posisi 6.109,01.
DAX Frankfurt melompat 2,77% (260,89 poin) ke level 9.688,53.
CAC 40 Paris melambung 3,07% (133,42 poin) menjadi 4,480,66.

Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia akhir pekan lalu menguat, terangkat oleh optimisme Ketua Federal Reserve Janet Yellen untuk menaikkan The Fed rate pada tahun ini diikuti dengan pengetatan moneter secara bertahap setelahnya.

Dolar juga mendapat dukungan dari revisi naik pertumbuhan ekonomi (PDB) AS kuartal kedua tahun ini menjadi 3,9 persen, dari perhituungan sebelumnya 3,7 persen. Indeks dolar, yang mengukur nilai tukar greenback terhadap enam mata uang mitra dagang utama AS, naik 0,29 persen menjadi 96,269, tertinggi dalam lima pekan terakhir.

Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot




































Komoditas

Harga minyak dunia, berhasil membukukan kenaikan pada akhir pekan lalu, setelah berfluktuasi selama sepekan akibat kekhawatiran akan permintaan China dam persediaan AS.

Revisi pertumbuhan PDB kuartal kedua AS ikut mengangkat harga minyak West Texas Intermediate (WTI) di bursa komoditas New York. Data Baker Hughes yang dirilis Jumat menunjukkan, penurunan 4 pengoperasian rig pengeboran minyak AS menjadi 640 rig hingga akhir pekan lalu.

Harga minyak WTI untuk pengiriman November, naik 79 sen (1,7%) menjadi US$45,70 per barel.
Harga minyak Brent untuk penyerahan November, naik 43 sen menjadi US$48,60 per barel.

Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange, akhir pekan lalu ditutup melemah tertekan penguatan dolar AS, terpengaruh oleh pernyataan pimpinan The Fed dan revisi naik pertumbuhan PDB AS kuartal kedua. Namun secara keseluruhan harga emas menguat sekitar 0,69 persen sepanjang pekan lalu.

Harga emas untuk pengiriman Desember turun US$8,20 (0,71%) menjadi US$1.145,60 per ounce.
Harga emas di pasar spot turun 0,6% menjadi US$1.145,75 per ounce. (AFP, CNBC, Reuters)



Sumber : IPOTNEWS
https://www.ipotnews.com/index.php?id=3865436#.VgizStKUde-











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger news