Pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mixed, setelah kembali berhasil mencatatkan rekor baru pada akhir perdagangan bursa pekan lalu. Sejumlah analis memperkirakan, IHSG berpotensi mengalami koreksi jika aksi ambil untung mendominasi bursa, namun rilis data BPS dan pengarus bursa Asia berpeluang medorong IHSG untuk melanjutkan penguatan.
Tim Riset Indo Premier berpendapat, melemahnya bursa global diperkirakan akan menekan pergerakan indeks. Sedangkan dari dalam negeri, pengumuman tingkat inflasi oleh Badan Pusat Statistik diperkirakan akan mempengaruhi pergerakan indeks. Indeks harga saham gabungan diprediksi akan mixed dengan kecendrungan melemah, support 5.430 dan resist 5.465. Beberapa saham yang bisa dicermati antara lain: TBIG [TBIG 9,275
Amerika Serikat dan Eropa
Meski berakhir dengan mencatatkan penurunan pada Jumat lalu (27/2), bursa saham Wall Street mengakhiri bulan Februari dengan membukukan keuntungan lebih dari 5%. Indeks Nasdaq Composite tampil sebagai bintang dengan membukukan kenaikan hingga 7%. Sedangkan, indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average untuk pertama kalinya mencetak rekor pada tahun ini. Rilis data PDB oleh Departemen Perdagangan AS yang merevisi turun estimasi tingkat pertumbuhan kuartal keempat 2014 menjadi 2,2 persen dari perkiraan sebelumnya 2,6 persen, menjadi pemicu melorotnya harga saham Wall Street,akhir pekan lalu.
S&P 500 tergelincir 0,30% (6,24 poin), ke level 2.104,50.
Dow Jones Industrial Average melorot 0,45% (81,72 poin), berakhir di level 18.132,70.
Nasdaq Composite tergerus 0,49% (24,36 poin), ditutup di level 4.963,53.
Harga ETF saham Indonesia di bursa Wall Street, anjlok 1,15% (-0,32 poin), menjadi US$27,58.
Berlawanan arah dengan pergerakan saham Wall Street, bursa saham utama Eropa menjelang akhir pekan kemarin kembali berlomba untuk memecahkan rekor baru. Persetujuan parlemen Jerman untuk mendukung perpanjangan dana talangan Yunani dan kinerja emiten yang positif menjadi pemicu utama kenaikan harga di bursa saham utama Eropa. DAX 30 dan CAC 40 ditutup dengan mencatatkan rekor baru, sedangkan FTSE 100 mencatatkan rekor intra-day.
FTSE 100, London terdongkrak 0,07%, ke level 6.946,66.
DAX 30, Frankfurt melambung 0,66%, berakhir di level 11.401,66.
CAC 40, Paris melesat 0,83%, mendarat di level 4.951,48.
Nilai Tukar Dolar AS
Akhir pekan kemarin, kurs dollar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia berakhir dengan hanya mengalami sedikit perubahan. Indeks Dolar AS hanya naik 0.0031%, dipengaruhi oleh bervariasinya nilai tukar dolar AS terhadap euro, yen, dan pounsterling pada penutupan bursa. Pergerakan kurs dolar AS antara lain dipengaruhi oleh rilis data yang merevisi turun laju pertumbuhan PDB AS. Namun secara keseluruhan, sepanjang Februari lalu, dolar AS menguat terhadap enam mata uang utama dunia, sebesar 0,52%. Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan akan kembali ke jalur depresiasi,setelah sempat mengalami penguatan menjelang akhiir pekan lalu.
Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot
(5:05 PM EST 2/27/2015)
| last(mid) | change | % chg | |
| Euro (EUR/USD) | 1.1197 | -0.0002 | -0.02% |
| Pound (GBP/USD) | 1.5436 | 0.0029 | 0.19% |
| Yen (USD/JPY) | 119.64 | 0.22 | 0.18% |
| Yuan (USD/CNY) | 6.2671 | 0.0099 | 0.16% |
| Rupiah (USD/IDR) | 12989 | 116 | 0.90% |
| US Dollar Index | 95.25 | 0.00 | 0.0031% |
Komoditas
Harga minyak dunia selama sesi terakhir perdagangan Februari pada akhir pekan kemarin, bergerak berbalik arah dan membukukan kenaikan. Setelah jatuh pada awal 2015 ke tingkat terendah dalam enam tahun, harga minyak mentah WTI berayun liar sepanjang Februari, namun akhirnya menutup bulan ini dengan kenaikan sekitar US$1,5. Sepanjang Februari Brent naik sekitar US$12, sehingga memperlebar selisihnya dengan WTI. Kenaikan harga minyak pada akhir pekan kemarin, terutama didorong oleh laporan Baker Hughes (Jumat,27/2), yang menyebutkan adanya tambahan penutupan operasi 43 anjungan minyak AS. Total sudah ada 502 rig yang ditutup operasinya dibanding Feburari tahun lalu ketika masih ada 1.769 rig yang beroperasi.
Emas berhasil bangkit kembali pada penutupan bursa akhir pekan kemarin dan membukukan kenaikan harga sekitar 1% sepanjang pekan ini, di pasar spot. Namun sepanjang Februari, harga emas sudah melorot sekitar 5,3%, dan sudah turun sekitar 7% dari harga tertinggi selama lima bulan terakhir, di atas US$1.300 per ounce pada Januari lalu. Trader berpendapat laju pemulihan harga emas masih belum cukup kuat untuk memastikan keberlanjutan kenaikannya, dan cenderung hanya memberikan keuntungan jangka pendek. Kenaikan permintaan emas China menjelang Tahun Baru Imlek, dan kembalinya para trader China pasca libur panjang dinilai beluum cukup kuat untuk mengembalikan kejayaan harrga emas.
Harga Komoditas di Bursa Berjangka
(5:47 PM EST 2/27/2015)
| Delivery | last | change | % chg | Market | |
| WTI Crude Oil | Apr 2015 | 49.52 | 1.35 | 2.80% | NYMEX |
| Brent Crude | May 2015 | 63.09 | 2.38 | 3.92% | ICE EU |
| Gold | Apr 2015 | 1213.7 | 3.6 | 0.30% | COMEX |
Sumber : IPOTNEWS
https://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Market_Brief__Asia_Menguat__Profit_Taking_Membayangi_Laju_IHSG&level2=newsandopinion&id=3423948&img=level1_topnews_1&urlImage=#.VPPGmXysVWI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar